Disharmonisasi Pola Hubungan Sosial Antarsiswa di
Sekolah
Dalam Perspektif Teori Konflik [1]
Oleh :
M. Al Akbar [2]
A.
Pendahuluan
Sekolah merupakan lembaga pendidikan
formal yang mengakomodir para peserta didik dalam memperoleh pengetahuan. Di
Sekolah, peserta didik juga dibimbing, dilatih serta dibina dalam rangka
terciptanya insan akademis yang mampu mandiri dan berprestasi baik secara
akademik maupun non akademik. Lembaga pendidikan formal ini memiliki begitu
banyak peran dalam proses pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dimana
didalamnya terdapat berbagai macam kegiatan yang membentuk karakter peserta
didik itu sendiri. Secara umum, siswa melakukan kegiatan belajar demi memenuhi
kebutuhan akan pengetahuan, dan disaat yang sama peserta didik juga meperoleh
pemahaman-pemahaman tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan sikap dan
perilaku yang nantinya akan diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat dalam
menyelesaikan probel atau konfilk-konflik yang terjadi sesuai dengan karakter
yang dimiliki.
Berkaitan dengan hal di atas, Doni
Koesoema (2010: 4) menjelaskan bahwa pendidikan karakter bukan hanya berurusan
dengan penanaman nilai bagi siswa, namun sebuah usaha bersama untuk menciptakan
sebuah lingkungan pendidikan tempat setiap individu dapat menghayati
kebebasannya sebagai sebuah prasyarat bagi kehidupan moral yang dewasa. Dengan
ditanamkannya pendidikan yang berorientasi pada terwujudnya karakter peserta
didik yang baik, diharapkan tercipta sebuah suasana yang harmonis di lingkungan
Sekolah sehingga para siswa dapat saling berinteraksi dengan baik dan dapat
menikmati proses belajar yang diikuti setiap harinya secara maksimal.
Setiap anak di Sekolah memiliki
karakteristik tersendiri. Kecerdasan emosional yang terdapat dalam diri siswa
berbeda pula. Hal inilah yang kemudian membawa perubahan-perubahan pada diri
peserta didik sehingga berdampak pada kemampuannya dalam mengelola hubungannya
atau interaksinya kesesama temannya maupun kepada guru yang ada di Sekolah.
Secara garis besar kemampuan siswa dalam berinteraksi
sosial dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok, yaitu siswa yang dapat
dikategorikan sebagai siswa yang bisa
berinteraksi sosial dengan baik atau pandai bergaul dan sebaliknya
yaitu siswa yang mengalami kesulitan bergaul atau individu
yang tidak bisa berinteraksi sosial dengan baik. (http://azizmiftahurrizky.blogspot.com, akses 11 Februari 2015).
Banyak siswa yang dianggap tidak mampu mengapresiasikan diri mereka oleh karena
kurangnya percaya diri yang dimiliki. Masalah itu kemudian menggiring siswa
tersebut tidak aktif untuk melakukan interaksi sosial sesama peserta didik.
Dilain sisi, siswa yang memiliki kemampuan interaksi sosial dengan baik lebih
memiliki rasa percaya diri yang baik, dan kemudian menggiringnya untuk
senantiasa bergaul dan berkomunikasi dengan aktif antar sesama siswa sehingga
terbentuk pola-pola hubungan interaksi sosial yang harmonis terkhusus di
lingkungan Sekolah sebagai tempat mereka melakukan kegiatan proses belajar.
B.
Perkembangan
sosial anak usia sekolah
Setiap anak pasti melalui proses
pertumbuhan dan perkembangan dalam hidupnya. Secara normal pertumbuhan dan
perkembangan anak akan melalui tahapan-tahapan yang membawa perubahan bagi anak
tersebut. Perubahan-perubahan tersebut kemudian memberikan implikasi pada jiwa
atau emosional peserta didik. Secara alamiah keadaan tersebut terus berlanjut
sampai mencapai usia dewasa.
Menurut Soetjingsih (1995: 1) ada dua
peristiwa yang sulit dipisahkan dan sifatnya berbeda tetapi saling berkaitan
dan sulit dipisahkan satu sama lainnya yaitu pertumbuhan dan perkembangan.
Lebih lanjut ia mendefinisikan tentang pertumbuhan dan perkembangan yaitu :
1. Pertumbuhan
(Growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau
dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bias diukur dengan ukuran
berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan
keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh).
2. Perkembangan
(development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi
tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai
hasil dari proses pematangan. Termasuk juga perkembangan emosi, inteletual dan
tinggkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. (Soetjiningsih,
1995: 1).
Proses
pertumbuhan dan perkembangan pada diri anak adalah dua fenomena yang tidak bisa
terpisahkan karena kedua hal tersebut saling berkontribusi satu sama lain
secara normal. Pada usia sekolah pertumbuhan dan perkembangan peserta didik
menitikberatkan pada kemampuan tentang psikis dan fisiologi. Namun dalam
makalah ini tidak akan dibahas lebih jauh tentang pertumbuhan anak, sebab akan
lebih difokuskan pada proses perkembangan yang di alami oleh anak terutama pada
usia sekolah.
Berikut
akan dikemukakan beberapa prinsip perkembangan menurut Gunarsa dan Yulia (2008:
4) yaitu :
-
Perkembangan tidak terbatas dalam arti
tumbuh menjadi besar tetapi mencakup rangkaian perubahan yang bersifat
progresif, teratur, koheren dan berkesinambungan.
-
Perkembangan dimulai dari
respons-respons yang sifatnya umum menuju ke yang khusus.
-
Manusia merupakan totalitas sehingga
akan ditemui kaitan erat antara perkembangan aspek fisik-motorik, mental, emosi
dan sosial.
-
Setiap orang akan mengalami tahapan
perkembangan yang berlangsung secara berantai.
-
Setiap fase perkembangan memiliki ciri
dan sifat yang khas.
-
Pola perkembangan mengikuti pola yang
pasti.
-
Perkembangan terjadi karena faktor
kematangan belajar.
-
Setiap individu berbeda.
Dari beberapa prinsip perkembangan di
atas, dapat disimpulkan bahwa setiap individu akan mengalami tahapan-tahapan
perkembangan dalam dirinya, baik secara fisik, motorik dan psikis yang terjadi
secara teratur dan berkesinambungan dengan karakter tersendiri sesuai dengan
pola dan kematangan dirinya. Perkembangan yang terjadi pada seseorang juga akan
membawa perubahan besar yang berhubungan dengan keadaan sosialnya dinama adanya
relation (interaksi sosial) sangat diperlukan.
Berkaitan dengan fenomena tersebut,
perkembangan yang terjadi pada diri anak usia Sekolah adalah hal yang wajar dan
itu pasti terjadi dengan melalui beberapa tahapan-tahapan dalam proses
interaksinya. Dengan demikian terbentuknya pola-pola hubungan sosial anak usia
Sekolah bisa dikatakan karena adanya perkembangan yang terjadi pada diri anak
baik itu merupakan aspek fisik, motorik dan psikis.
Berikut
akan dipaparkan 3 perkembangan anak pada masa usia Sekolah :
Perkembangan sosial
anak usia sekolah dasar
Pada masa ini bermain bagi anak adalah
sebuah kebutuhan yang tidak bias ditinggalkan. Kebutuhan akan bermain telah
menjadi prioritas utama anak pada masa-masa Sekolah Dasar. Dengan bermmain,
interaksi sosial sesamanya akan mudah terbentuk oleh karena adanya motivasi
untuk selalu bersama meluapkan kegembiraan bersama teman sebayanya. Secara
normatif hampir setiap waktu dalam sehari digunakan oleh anak pada usia ini
untuk bermain.
Berikut adalah karakteristik
perkembangan sosial anak pada usia sekolah dasar yaitu minat terhadap kelompok
makin besar, mulai mengurangi keikutsertaannya pada aktivitas keluarga.
Pengaruh yang timbul pada keterampilan sosialisasi anak diantaranya berikut
ini:
1.
Membantu anak untuk belajar bersama
dengan orang lain dan bertingkah laku yang dapat diterima oleh kelompok.
2.
Membantu anak mengembangkan nilai-nilai
sosial lain diluar nilainya, dan
3.
Membantu mengembangkan kepribadian yang
mandiri dengan mendapatkan kepuasan emosional dari rasa berkawan.
Pada dasarnya karakteristik anak usia
ini lebih tertarik dan mengutamakan kelompoknya sehingga waktu-waktu bersama
keluarga lebih kurang. Sebagai akibat dari hal tersebut, anak akan mudah dalam
menerima dan diterima oleh kelopok. Kemudian nilai sosial dan kepribadian yang
mandiri akan didaptkan dari kebersamaannya dalam kelompok.
Perkembangan sosial
anak usia sekolah menengah pertama
Masa ini bisa dikatakan adalah masa awal
remaja anak. Pada anak usia SMP anak akan mulai melihat identitas dirinya
sebagai individu yang mulai berkembang menjadi lebih maju. Kecenderungan untuk
bermain secara perlahan semakin kurang karena mulai munculnnya rasa malu untuk
diantara teman sebayanya terlebih pada teman lawan jenisnya.
Pada saat remaja awal
berjuang untuk memantapkan identitas pribadi yang bebas dari identitas orang
tua mereka, mereka juga terus berpaling kepada teman sebaya mereka untuk
kemanan dan dukungan sosial. (https://p4radi9ma.wordpress.com / akses 10 Februari 2015).
Persaan untuk bebas
dari kawalan orang tua adalah salah satu alasan penting mengapa anak usia
remaja awal mulai merasa bahwa ia bisa menjaga dirinya sendiri. Dengan begitu
kebebasan untuk berinteraksi sosial dengan sesamanya lebih leluasa dilakukan
apalagi melihat perkembangan teknologi sekarang ini menjadikan kita lebih mudah
dalam berkomunikasi.
Perkembangan sosial
anak usia sekolah menengah atas
Masa transisi adalah masa yang dialami
oleh anak usia SMA. Pada masa ini anak akan merasa bingung bahkan susah
dalam menentukan sikapnya oleh karena
rasa kebingugan yang timbul dalam pikirannya. Masa peralihan ini adalah
saat-saat dimana anak mulai mencari jati drinya sebagai individu.
Ketidakjelasan ini karena mereka berada
pada periode transisi, yaitu dari periode kanak-kanak menuju periode orang
dewasa. Pada masa tersebut mereka melalui masa yang disebut masa remaja atau
pubertas. Umumnya mereka tidak mau dikatakan sebagai anak-anak tapi jika mereka
disebut sebagai orang dewasa, mereka secara rill belum siap menyandang predikat
sebagai orang dewasa (http://sahabatedhay.blogspot.com/
akses 17 Februari 2015)
Kehidupan sosial anak masa transisi ini
lebih banyak dihabiskan dengan kecenderungan saling berinteraksi sesama
kelompoknya saja. Ada kotak-kotak yang tercipta oleh karena adanya keinginan
untuk menunjukkan identitas dan eksistensinya yang sebenarnya.
C.
Munculnya
konflik dikalangan anak yang berimbas pada perilaku anak di Sekolah
Setiap individu pasti memiliki
pertentangan dalam dirinya mengenai baik dan tidaknya sesuatu yang dihadapi. Begitu
pula pada anak, keputusan untuk melakukan sesuatu terkadang menjadi
problematika tersendri dalam dirinya karena belum terbentuknya pola pikir yang
baik pada anak. Ketidak mampuan dalam memanajemen masalah yang dihadapi juga
termasuk salah satu penyebab konflik dan itu terjadi bahkan bukan pada diri
sendiri melainkan juga terjadi sesame anak baik dalam llingkungan belajar
maupun dilingkungan non formal lain.
Masalah atau konflik yang terjadi pada
siswa bukan tidak mungkin memberikan akibat pada pergaulan sosialnya di
lingkungan Sekolah tempat ia belajar. Pada usia sekolah menengah, konflik yang
terjadi dikalangan siswa sangat rentan apalagi pada usia perlaihan karena saat
itu anak mengalami berbagai problematika baik dengan dirinya sendiri maupun
dengan temannya. Kejadian inipun tidak jarang berlanjut di lingkungan Sekolah,
ditambah lagi dengan timbulnya masalah-masalah baru di Sekolah sehingga terjadi
disharmonisasi hubungan sosial dikalangan siswa.
D.
Upaya
menciptkan harmonisasi peserta didik di dalam lingkungan Sekolah
Adanya lembaga pendidikan formal seperti
Sekolah yang lengkap dengan tata tertib serta peraturan-peraturan bukannya
tidak terbebas dari adanya masalah terutama pada peserta didik. Keberagaman
latar belakang siswa dalam sebuah sekolah kerap menjadi dasar terjadinya
konflik antar siswa yang menyebabkan keharmonisan hubungan sosial antar peserta
didik/siswa tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu perlu adanya usaha
untuk menciptakan suasana yang kondusif aman dan tentram sehingga
disharmonisasi di lingkungan Sekolah tidak terjadi terutama pada hubungan antar
siswa.
Ada beberapa usaha yang patut dicoba
dalam rangka menciptaan hubungan yang baik antar siswa di Sekolah yakni :
1. Penanaman
nilai-nilai karakter yang baik kepada siswa.
2. Pembelajaran
yang berorientasi pada terjalinnya kerja sama antar sesame peserta didik.
3. Kegiatan-kegiatan
posit kelompok dengan pendekatan kompetisi.
4. Pemberian
motivasi dengan berbagai cara yang positif.
Upaya
di atas sebenarnya telah terkonsep dengan baik dengan adanya program-program
yang akan dijalankan oleh banya pihak Sekolah namun disini perlu perlu
ditekankan bahwa peran serta guru di Sekolah sangatlah penting karena gurulah
yang mengorganisir secara langsung semua bentuk kegiatan di Sekolah.
E.
Peranan
guru dalam proses pembentukan karakter anak di Sekolah
Secara khsusus sesuai dengan adanya
pembaharuan kurikulum saat ini yang berorientasi pada penanaman nilai karakter
bangsa telah memberikan sumbangsi besar dalam proses pembelajaran di Sekolah.
Peserta didik diharapkan mampu menjadi individu yang berkualitas secara
kuantitatif maupun secara kualitatif. Guru memiliki peran yang sangat besar
dalam membimbing, mengajar dan melatih peserta didik di Sekolah dan itu
berlangsung setiap hari secara berkelanjutan sampai siswa menamatkan dirinya
pada sebuah Sekolah.
Guru yang memiliki kompetensi yang baik
tentu tahu cara-cara yang baik dalam memberikan bimbingan kepada siswa terutama
dalam peningkatan nilai-nilai karakter baik yang dimiliki oleh siswa. Komukasi
yang baik dengan orang tua siswa tentunya merupakan salah satu cara untuk lebih
mengenal karakter siswa sehingga dalam proses pembelajaran dan pembimbingan siswa,
guru tidak terlalu mengalami keuslitan dalam menanamkan nilai-nilai karakter
tersebut.
Di sekolah, Pendidikan karakter
dikaitkan dengan manajemen sekolah. Kepala sekolah dan guru memegang peranan
penting dalam merancang, merencanakan, melaksanakan, dan mengontrol kegiatan di
sekolah. Situasi ini bisa dijadikan sebagai potensi untuk bisa merancang tujuan
pendidikan jangka panjang di sekolah tersebut. Sudah saatnya setiap satuan
pendidikan di Indonesia melaksanakan pendidikan karakter di sekolah masing-masing.
Guru harus mampu mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam setiap mata
pelajaran, termasuk kegiatan ekstrakurikuler. Dengan demikian setiap satuan
pendidikan telah proaktif dalam proses internalisasi dan pengamalan nilai dan
norma dalam kehidupan nyata.( http://www.m-edukasi.web.id/2013/07/pendidikan-karakter.html/
akses 23 Februari 2015)
Disamping itu, keteladanan dari tenaga
pendidik (Guru) maupun tenaga kependidikan sangat penting oleh karena dengan
begitu siswa dapat melihat langsung secara rill aplikasi nilai-nilai yang baik
sehingga mereka mendapatkan penguatan bukan hanya dari sekedar nasehat atau
proses pembinaan yang lain.
F.
Peran
pemerintah dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas tenaga pendidik
Upaya pemerintah dalam meningkatkan
kualitas Guru sebenarnya telah lama dilakukan seiring dengan perkembangan
jaman. Sampai sekarang, upaya peningkatan kompetensi guru dengan pemberian
sertifikasi adalah salah satu cara yang ditempuh oleh pemerintah. Namun
demikian masih banyak terdapat guru yang ternyata hanya sekedar mendapatkan
“Sertifikat” pendidik tapi kemampuan yang dimiliki tetap tidak mengalami
perubahan yang baik. Berbagai pelatihan dan penataran juga sudah lama dilakukan
namun masih memberikan hasil yang belum maksimal.
Menurut
penulis, hal-hal yang harus dilakukan adalah :
1. Standarisasi
dalam perekrutan tenaga pendidikan harus lebih ditingkatkan. Dengan begitu
upaya untuk membekali diri calon pendidik (sesuai dengan bidangnya) lebih
ditingkatkan lagi sehingga ketika memasuki lingkungan pendidikan, tidak ada
lagi kekakuan atau kompetensi yang dimiliki sudah siap untuk mengajar.
2. Pemerintah
harus merubah pola-pola pelatihan atau penataran kepada Guru terkhusus masalah
kompetensi dibidang ilmunya. Pola-pola yang selama ini dijalankkan terkesan
klasik tanpa adanya pembaharuan dari metode-metode dalam melaksanakan
pembelajaran sehingga output yang dihasilkan juga masih stagnan.
3. Kompetisi
untuk para guru masih sangat kurang karena pada kenyataannya informasi hanya
sampai pada tataran tingkat provinsi tidak sampai pada tingkat kecamatan.
Padahal masih banyak guru-guru yang belum diuji secara kompetisi ditataran
daerah Kecamatan bahkan pedesaan. Olehnya itu pemerintah harus lebih jeli
melihat problematika ini.
4. Harus
ada evaluasi yang intensif dan berkelanjutan dari pemerintah tentang kemampuan
dan kinerja para guru. Bila perlu, sanksi harus diberikan bagi guru yang
betul-betul tidak menjalankan fungsinya sebagai tenaga pendidik.
Dilain
pihak, guru juga harus secara mandiri meningkatkan kualitas dirinya terutama
pada bidang ilmu yang milikinya. Untuk saat ini, pengetahuan tentang IT
(Informasi dan Teknologi) sangat penting bagi seorang Guru. Mengiingat
kurikulum yang dijalankan pemerintah saat ini adalah berbasis pada penguasaan
IT. Sebagai contoh : kalau seorang guru tidak tahu dalam mengoperasikan
komputer, bagaimana mungkin ia dapat mengakomodir pembelajaran yang menuntut
harus menggunakan perangkat IT? Ini tentu menjadi masalah karena dengan itu
keinginan siswa dalam belajar tidak dapat terakomodir dengan maksimal, hasilnya
siswa akan mendapatkan penngetahuan yang minim pula.
G.
Penutup
Harmosisasi di lingkungan pendidikan
formal yakni Sekolah sangatlah penting untuk diciptkan mengingat hal tersebut
sangat baik sebagai penunjang terciptanya proses pembelajaran yang baik.
Hubungan sosial antar siswa perlu dijaga dan ditingkatkan agar tidak terjadi
konflik-konflik yang dapat memecah belah hubungan sosial anak di Sekolah. Tentu
perannan Guru sebagai pendidikan sangat penting dalam mengorganisir siswa dalam
setiap kegiatan yang dilakukan. Adanya pengawasan terhadap peserta didik juga
sangat penting dilakukan agar siswa tidak terbiasa melakukan hal-hal yang
merugikan semua pihak.
Daftar Pustaka
Fajarsyah, Yane. 2015. “Perkembangan Sosial Anak Sekolah Dasar”.
Gunarsa D., Singgih dan Singgih, Yulia. 2008. “Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja”.
Jakarta : Gunung Mulia
Jibran, Jasman.
2015. “Peran Guru Dalam Pendidikan
Karakter”.
http://www.m-edukasi.web.id/2013/07/pendidikan-karakter.html/ akses 23
Februari 2015
Koesoema A.,
Doni. 2010. “Pendidikan Karakter:
Strategi Mendidikan Anak dizaman Global”. Jakarta : Grasindo
Rizky, Aziz Miftahur.
2015. “Hubungan Interaksi Sosial Siswa Dengan SikapTerhadap Pembelajaran”.
http://azizmiftahurrizky.blogspot.com/2013/07/hubungan-interaksi-sosial-siswa-dengan.html (tanggal akses, 11 February 2015)
Soetjinginsih. 1995. “Tumbuh Kembang Anak”. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC
Sudrajat, Edi.
2015. “Dinamika Kehidupan Anak Usia
Sekolah”. http://sahabatedhay.blogspot.com/2014/05/makalah-perkembangan-peserta-didik.html
akses 23 Ferbuari 2015
Wulandari,
Krishma. 2015. “Perkembangan Sosial Anak
Masa Sekolah Menengah Pertama”. https://p4radi9ma.wordpress.com/sosial-2/perkembangan-sosial-anak-masa-sekolah-menengah-pertama/ (akses 10
februari 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar