Laman

Senin, 24 Agustus 2015

Disharmonisasi Pola Hubungan Sosial Antarsiswa di Sekolah Dalam Perspektif Teori Konflik

Disharmonisasi Pola Hubungan Sosial Antarsiswa di Sekolah
Dalam Perspektif Teori Konflik [1]

Oleh :

M. Al Akbar [2]

A.      Pendahuluan
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mengakomodir para peserta didik dalam memperoleh pengetahuan. Di Sekolah, peserta didik juga dibimbing, dilatih serta dibina dalam rangka terciptanya insan akademis yang mampu mandiri dan berprestasi baik secara akademik maupun non akademik. Lembaga pendidikan formal ini memiliki begitu banyak peran dalam proses pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dimana didalamnya terdapat berbagai macam kegiatan yang membentuk karakter peserta didik itu sendiri. Secara umum, siswa melakukan kegiatan belajar demi memenuhi kebutuhan akan pengetahuan, dan disaat yang sama peserta didik juga meperoleh pemahaman-pemahaman tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan sikap dan perilaku yang nantinya akan diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat dalam menyelesaikan probel atau konfilk-konflik yang terjadi sesuai dengan karakter yang dimiliki.
Berkaitan dengan hal di atas, Doni Koesoema (2010: 4) menjelaskan bahwa pendidikan karakter bukan hanya berurusan dengan penanaman nilai bagi siswa, namun sebuah usaha bersama untuk menciptakan sebuah lingkungan pendidikan tempat setiap individu dapat menghayati kebebasannya sebagai sebuah prasyarat bagi kehidupan moral yang dewasa. Dengan ditanamkannya pendidikan yang berorientasi pada terwujudnya karakter peserta didik yang baik, diharapkan tercipta sebuah suasana yang harmonis di lingkungan Sekolah sehingga para siswa dapat saling berinteraksi dengan baik dan dapat menikmati proses belajar yang diikuti setiap harinya secara maksimal.
Setiap anak di Sekolah memiliki karakteristik tersendiri. Kecerdasan emosional yang terdapat dalam diri siswa berbeda pula. Hal inilah yang kemudian membawa perubahan-perubahan pada diri peserta didik sehingga berdampak pada kemampuannya dalam mengelola hubungannya atau interaksinya kesesama temannya maupun kepada guru yang ada di Sekolah.
Secara garis besar kemampuan siswa dalam berinteraksi sosial dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok, yaitu siswa yang dapat dikategorikan sebagai siswa yang bisa berinteraksi sosial dengan baik atau pandai bergaul dan sebaliknya yaitu siswa yang mengalami kesulitan bergaul atau individu yang tidak bisa berinteraksi sosial dengan baik. (http://azizmiftahurrizky.blogspot.com, akses 11 Februari 2015). Banyak siswa yang dianggap tidak mampu mengapresiasikan diri mereka oleh karena kurangnya percaya diri yang dimiliki. Masalah itu kemudian menggiring siswa tersebut tidak aktif untuk melakukan interaksi sosial sesama peserta didik. Dilain sisi, siswa yang memiliki kemampuan interaksi sosial dengan baik lebih memiliki rasa percaya diri yang baik, dan kemudian menggiringnya untuk senantiasa bergaul dan berkomunikasi dengan aktif antar sesama siswa sehingga terbentuk pola-pola hubungan interaksi sosial yang harmonis terkhusus di lingkungan Sekolah sebagai tempat mereka melakukan kegiatan proses belajar.

B.       Perkembangan sosial anak usia sekolah
Setiap anak pasti melalui proses pertumbuhan dan perkembangan dalam hidupnya. Secara normal pertumbuhan dan perkembangan anak akan melalui tahapan-tahapan yang membawa perubahan bagi anak tersebut. Perubahan-perubahan tersebut kemudian memberikan implikasi pada jiwa atau emosional peserta didik. Secara alamiah keadaan tersebut terus berlanjut sampai mencapai usia dewasa.
Menurut Soetjingsih (1995: 1) ada dua peristiwa yang sulit dipisahkan dan sifatnya berbeda tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan satu sama lainnya yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Lebih lanjut ia mendefinisikan tentang pertumbuhan dan perkembangan yaitu :
1.      Pertumbuhan (Growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bias diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh).
2.      Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Termasuk juga perkembangan emosi, inteletual dan tinggkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. (Soetjiningsih, 1995: 1).
Proses pertumbuhan dan perkembangan pada diri anak adalah dua fenomena yang tidak bisa terpisahkan karena kedua hal tersebut saling berkontribusi satu sama lain secara normal. Pada usia sekolah pertumbuhan dan perkembangan peserta didik menitikberatkan pada kemampuan tentang psikis dan fisiologi. Namun dalam makalah ini tidak akan dibahas lebih jauh tentang pertumbuhan anak, sebab akan lebih difokuskan pada proses perkembangan yang di alami oleh anak terutama pada usia sekolah.

Berikut akan dikemukakan beberapa prinsip perkembangan menurut Gunarsa dan Yulia (2008: 4) yaitu :
-        Perkembangan tidak terbatas dalam arti tumbuh menjadi besar tetapi mencakup rangkaian perubahan yang bersifat progresif, teratur, koheren dan berkesinambungan.
-        Perkembangan dimulai dari respons-respons yang sifatnya umum menuju ke yang khusus.
-        Manusia merupakan totalitas sehingga akan ditemui kaitan erat antara perkembangan aspek fisik-motorik, mental, emosi dan sosial.
-        Setiap orang akan mengalami tahapan perkembangan yang berlangsung secara berantai.
-        Setiap fase perkembangan memiliki ciri dan sifat yang khas.
-        Pola perkembangan mengikuti pola yang pasti.
-        Perkembangan terjadi karena faktor kematangan belajar.
-        Setiap individu berbeda.

Dari beberapa prinsip perkembangan di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap individu akan mengalami tahapan-tahapan perkembangan dalam dirinya, baik secara fisik, motorik dan psikis yang terjadi secara teratur dan berkesinambungan dengan karakter tersendiri sesuai dengan pola dan kematangan dirinya. Perkembangan yang terjadi pada seseorang juga akan membawa perubahan besar yang berhubungan dengan keadaan sosialnya dinama adanya relation (interaksi sosial) sangat diperlukan.
Berkaitan dengan fenomena tersebut, perkembangan yang terjadi pada diri anak usia Sekolah adalah hal yang wajar dan itu pasti terjadi dengan melalui beberapa tahapan-tahapan dalam proses interaksinya. Dengan demikian terbentuknya pola-pola hubungan sosial anak usia Sekolah bisa dikatakan karena adanya perkembangan yang terjadi pada diri anak baik itu merupakan aspek fisik, motorik dan psikis.
           
Berikut akan dipaparkan 3 perkembangan anak pada masa usia Sekolah :
Perkembangan sosial anak usia sekolah dasar
Pada masa ini bermain bagi anak adalah sebuah kebutuhan yang tidak bias ditinggalkan. Kebutuhan akan bermain telah menjadi prioritas utama anak pada masa-masa Sekolah Dasar. Dengan bermmain, interaksi sosial sesamanya akan mudah terbentuk oleh karena adanya motivasi untuk selalu bersama meluapkan kegembiraan bersama teman sebayanya. Secara normatif hampir setiap waktu dalam sehari digunakan oleh anak pada usia ini untuk bermain.
Berikut adalah karakteristik perkembangan sosial anak pada usia sekolah dasar yaitu minat terhadap kelompok makin besar, mulai mengurangi keikutsertaannya pada aktivitas keluarga. Pengaruh yang timbul pada keterampilan sosialisasi anak diantaranya berikut ini:
1.      Membantu anak untuk belajar bersama dengan orang lain dan bertingkah laku yang dapat diterima oleh kelompok.
2.      Membantu anak mengembangkan nilai-nilai sosial lain diluar nilainya, dan
3.      Membantu mengembangkan kepribadian yang mandiri dengan mendapatkan kepuasan emosional dari rasa berkawan.
(http://eckaneumandiani.blogspot.com/ akses 10 Februari 2015)
Pada dasarnya karakteristik anak usia ini lebih tertarik dan mengutamakan kelompoknya sehingga waktu-waktu bersama keluarga lebih kurang. Sebagai akibat dari hal tersebut, anak akan mudah dalam menerima dan diterima oleh kelopok. Kemudian nilai sosial dan kepribadian yang mandiri akan didaptkan dari kebersamaannya dalam kelompok.

Perkembangan sosial anak usia sekolah menengah pertama
Masa ini bisa dikatakan adalah masa awal remaja anak. Pada anak usia SMP anak akan mulai melihat identitas dirinya sebagai individu yang mulai berkembang menjadi lebih maju. Kecenderungan untuk bermain secara perlahan semakin kurang karena mulai munculnnya rasa malu untuk diantara teman sebayanya terlebih pada teman lawan jenisnya.
Pada saat remaja awal berjuang untuk memantapkan identitas pribadi yang bebas dari identitas orang tua mereka, mereka juga terus berpaling kepada teman sebaya mereka untuk kemanan dan dukungan sosial. (https://p4radi9ma.wordpress.com / akses 10 Februari 2015).
Persaan untuk bebas dari kawalan orang tua adalah salah satu alasan penting mengapa anak usia remaja awal mulai merasa bahwa ia bisa menjaga dirinya sendiri. Dengan begitu kebebasan untuk berinteraksi sosial dengan sesamanya lebih leluasa dilakukan apalagi melihat perkembangan teknologi sekarang ini menjadikan kita lebih mudah dalam berkomunikasi.

Perkembangan sosial anak usia sekolah menengah atas
Masa transisi adalah masa yang dialami oleh anak usia SMA. Pada masa ini anak akan merasa bingung bahkan susah dalam  menentukan sikapnya oleh karena rasa kebingugan yang timbul dalam pikirannya. Masa peralihan ini adalah saat-saat dimana anak mulai mencari jati drinya sebagai individu.
Ketidakjelasan ini karena mereka berada pada periode transisi, yaitu dari periode kanak-kanak menuju periode orang dewasa. Pada masa tersebut mereka melalui masa yang disebut masa remaja atau pubertas. Umumnya mereka tidak mau dikatakan sebagai anak-anak tapi jika mereka disebut sebagai orang dewasa, mereka secara rill belum siap menyandang predikat sebagai orang dewasa (http://sahabatedhay.blogspot.com/ akses 17 Februari 2015)
Kehidupan sosial anak masa transisi ini lebih banyak dihabiskan dengan kecenderungan saling berinteraksi sesama kelompoknya saja. Ada kotak-kotak yang tercipta oleh karena adanya keinginan untuk menunjukkan identitas dan eksistensinya yang sebenarnya.
C.      Munculnya konflik dikalangan anak yang berimbas pada perilaku anak di Sekolah
Setiap individu pasti memiliki pertentangan dalam dirinya mengenai baik dan tidaknya sesuatu yang dihadapi. Begitu pula pada anak, keputusan untuk melakukan sesuatu terkadang menjadi problematika tersendri dalam dirinya karena belum terbentuknya pola pikir yang baik pada anak. Ketidak mampuan dalam memanajemen masalah yang dihadapi juga termasuk salah satu penyebab konflik dan itu terjadi bahkan bukan pada diri sendiri melainkan juga terjadi sesame anak baik dalam llingkungan belajar maupun dilingkungan non formal lain.
Masalah atau konflik yang terjadi pada siswa bukan tidak mungkin memberikan akibat pada pergaulan sosialnya di lingkungan Sekolah tempat ia belajar. Pada usia sekolah menengah, konflik yang terjadi dikalangan siswa sangat rentan apalagi pada usia perlaihan karena saat itu anak mengalami berbagai problematika baik dengan dirinya sendiri maupun dengan temannya. Kejadian inipun tidak jarang berlanjut di lingkungan Sekolah, ditambah lagi dengan timbulnya masalah-masalah baru di Sekolah sehingga terjadi disharmonisasi hubungan sosial dikalangan siswa.
D.      Upaya menciptkan harmonisasi peserta didik di dalam lingkungan Sekolah
Adanya lembaga pendidikan formal seperti Sekolah yang lengkap dengan tata tertib serta peraturan-peraturan bukannya tidak terbebas dari adanya masalah terutama pada peserta didik. Keberagaman latar belakang siswa dalam sebuah sekolah kerap menjadi dasar terjadinya konflik antar siswa yang menyebabkan keharmonisan hubungan sosial antar peserta didik/siswa tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu perlu adanya usaha untuk menciptakan suasana yang kondusif aman dan tentram sehingga disharmonisasi di lingkungan Sekolah tidak terjadi terutama pada hubungan antar siswa.
Ada beberapa usaha yang patut dicoba dalam rangka menciptaan hubungan yang baik antar siswa di Sekolah yakni :
1.      Penanaman nilai-nilai karakter yang baik kepada siswa.
2.      Pembelajaran yang berorientasi pada terjalinnya kerja sama antar sesame peserta didik.
3.      Kegiatan-kegiatan posit kelompok dengan pendekatan kompetisi.
4.      Pemberian motivasi dengan berbagai cara yang positif.

Upaya di atas sebenarnya telah terkonsep dengan baik dengan adanya program-program yang akan dijalankan oleh banya pihak Sekolah namun disini perlu perlu ditekankan bahwa peran serta guru di Sekolah sangatlah penting karena gurulah yang mengorganisir secara langsung semua bentuk kegiatan di Sekolah.

E.       Peranan guru dalam proses pembentukan karakter anak di Sekolah
Secara khsusus sesuai dengan adanya pembaharuan kurikulum saat ini yang berorientasi pada penanaman nilai karakter bangsa telah memberikan sumbangsi besar dalam proses pembelajaran di Sekolah. Peserta didik diharapkan mampu menjadi individu yang berkualitas secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Guru memiliki peran yang sangat besar dalam membimbing, mengajar dan melatih peserta didik di Sekolah dan itu berlangsung setiap hari secara berkelanjutan sampai siswa menamatkan dirinya pada sebuah Sekolah.
Guru yang memiliki kompetensi yang baik tentu tahu cara-cara yang baik dalam memberikan bimbingan kepada siswa terutama dalam peningkatan nilai-nilai karakter baik yang dimiliki oleh siswa. Komukasi yang baik dengan orang tua siswa tentunya merupakan salah satu cara untuk lebih mengenal karakter siswa sehingga dalam proses pembelajaran dan pembimbingan siswa, guru tidak terlalu mengalami keuslitan dalam menanamkan nilai-nilai karakter tersebut.
Di sekolah, Pendidikan karakter dikaitkan dengan manajemen sekolah. Kepala sekolah dan guru memegang peranan penting dalam merancang, merencanakan, melaksanakan, dan mengontrol kegiatan di sekolah. Situasi ini bisa dijadikan sebagai potensi untuk bisa merancang tujuan pendidikan jangka panjang di sekolah tersebut. Sudah saatnya setiap satuan pendidikan di Indonesia melaksanakan pendidikan karakter di sekolah masing-masing. Guru harus mampu mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam setiap mata pelajaran, termasuk kegiatan ekstrakurikuler. Dengan demikian setiap satuan pendidikan telah proaktif dalam proses internalisasi dan pengamalan nilai dan norma dalam kehidupan nyata.( http://www.m-edukasi.web.id/2013/07/pendidikan-karakter.html/ akses 23 Februari 2015)
Disamping itu, keteladanan dari tenaga pendidik (Guru) maupun tenaga kependidikan sangat penting oleh karena dengan begitu siswa dapat melihat langsung secara rill aplikasi nilai-nilai yang baik sehingga mereka mendapatkan penguatan bukan hanya dari sekedar nasehat atau proses pembinaan yang lain.



F.       Peran pemerintah dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas tenaga pendidik
Upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas Guru sebenarnya telah lama dilakukan seiring dengan perkembangan jaman. Sampai sekarang, upaya peningkatan kompetensi guru dengan pemberian sertifikasi adalah salah satu cara yang ditempuh oleh pemerintah. Namun demikian masih banyak terdapat guru yang ternyata hanya sekedar mendapatkan “Sertifikat” pendidik tapi kemampuan yang dimiliki tetap tidak mengalami perubahan yang baik. Berbagai pelatihan dan penataran juga sudah lama dilakukan namun masih memberikan hasil yang belum maksimal.

Menurut penulis, hal-hal yang harus dilakukan adalah :
1.      Standarisasi dalam perekrutan tenaga pendidikan harus lebih ditingkatkan. Dengan begitu upaya untuk membekali diri calon pendidik (sesuai dengan bidangnya) lebih ditingkatkan lagi sehingga ketika memasuki lingkungan pendidikan, tidak ada lagi kekakuan atau kompetensi yang dimiliki sudah siap untuk mengajar.
2.      Pemerintah harus merubah pola-pola pelatihan atau penataran kepada Guru terkhusus masalah kompetensi dibidang ilmunya. Pola-pola yang selama ini dijalankkan terkesan klasik tanpa adanya pembaharuan dari metode-metode dalam melaksanakan pembelajaran sehingga output yang dihasilkan juga masih stagnan.
3.      Kompetisi untuk para guru masih sangat kurang karena pada kenyataannya informasi hanya sampai pada tataran tingkat provinsi tidak sampai pada tingkat kecamatan. Padahal masih banyak guru-guru yang belum diuji secara kompetisi ditataran daerah Kecamatan bahkan pedesaan. Olehnya itu pemerintah harus lebih jeli melihat problematika ini.
4.      Harus ada evaluasi yang intensif dan berkelanjutan dari pemerintah tentang kemampuan dan kinerja para guru. Bila perlu, sanksi harus diberikan bagi guru yang betul-betul tidak menjalankan fungsinya sebagai tenaga pendidik.
Dilain pihak, guru juga harus secara mandiri meningkatkan kualitas dirinya terutama pada bidang ilmu yang milikinya. Untuk saat ini, pengetahuan tentang IT (Informasi dan Teknologi) sangat penting bagi seorang Guru. Mengiingat kurikulum yang dijalankan pemerintah saat ini adalah berbasis pada penguasaan IT. Sebagai contoh : kalau seorang guru tidak tahu dalam mengoperasikan komputer, bagaimana mungkin ia dapat mengakomodir pembelajaran yang menuntut harus menggunakan perangkat IT? Ini tentu menjadi masalah karena dengan itu keinginan siswa dalam belajar tidak dapat terakomodir dengan maksimal, hasilnya siswa akan mendapatkan penngetahuan yang minim pula.

G.      Penutup
Harmosisasi di lingkungan pendidikan formal yakni Sekolah sangatlah penting untuk diciptkan mengingat hal tersebut sangat baik sebagai penunjang terciptanya proses pembelajaran yang baik. Hubungan sosial antar siswa perlu dijaga dan ditingkatkan agar tidak terjadi konflik-konflik yang dapat memecah belah hubungan sosial anak di Sekolah. Tentu perannan Guru sebagai pendidikan sangat penting dalam mengorganisir siswa dalam setiap kegiatan yang dilakukan. Adanya pengawasan terhadap peserta didik juga sangat penting dilakukan agar siswa tidak terbiasa melakukan hal-hal yang merugikan semua pihak.











Daftar Pustaka
Fajarsyah, Yane. 2015. “Perkembangan Sosial Anak Sekolah Dasar”.

Gunarsa D., Singgih dan Singgih, Yulia. 2008. “Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja”. Jakarta : Gunung Mulia

Jibran, Jasman. 2015. “Peran Guru Dalam Pendidikan Karakter”.

Koesoema A., Doni. 2010. “Pendidikan Karakter: Strategi Mendidikan Anak dizaman Global”. Jakarta : Grasindo

Rizky, Aziz Miftahur. 2015. “Hubungan Interaksi Sosial Siswa Dengan SikapTerhadap Pembelajaran”.

Soetjinginsih. 1995. “Tumbuh Kembang Anak”. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC

Wulandari, Krishma. 2015. “Perkembangan Sosial Anak Masa Sekolah Menengah Pertama”. https://p4radi9ma.wordpress.com/sosial-2/perkembangan-sosial-anak-masa-sekolah-menengah-pertama/ (akses 10 februari 2015)






[1] Makalah sebagai bahan referensi pembelajaran di Sekolah
[2] Guru Penjaskes pada SMP Negeri 03 Poleang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar