Laman

Selasa, 18 Agustus 2015

Aliran-aliran Filsafat Pendidikan : Idealisme, Realisme,
Pragmatisme dan Materialisme

Oleh :

M. Al Akbar

A.      Pendahuluan
Berpikir merupakan suatu proses alamiah yang  dialami oleh setiap manusia. Proses berpikir tentang suatu masalah atau objek tentunya berbeda-beda pada setiap individu, semua bergantung pada pola pikir atau mind set masing-masing. Tentunya peranan filsafat dalam hal ini sangat penting bagi kita. Filsafat dalam artian adalah berpikir secara mendalam serta melihat  sesuatu dari berbagai sudut pandang. Dengan berpikir secara filsafat maka kita akan digiring untuk memikirkan suatu objek masalah dari berbagai sudut pandang sehinggga nantinya kita akan mendapatkan pengetahuan dan kebenaran yang konprehensiv tentang objek tersebut.  
Kiranya figur seorang filsuf itu dapat digambarkan sebagai orang yang selalu mendambakan pengetahuan yang mendalam dan meluas, teguh pada prinsip kebenaran ilmiah yang berguna bagi manusia demi dinamika hidup dan kehidupan, sehingga membuat perasaan menjadi selalu tertarik (tidak membosankan) untuk mengembangkan hidup ini menjadi kehidupan yang senantiasa tertuju kepada kebahagiaan sejati (Suhartono, 2004: 54). Dewasa ini banyak diantara kita yang belum mengaplikasikan cara berpikir filsafat sehingga kadang kala dalam menemukan masalah agak sulit untuk menemukan solusi dari masalah tersebut oleh karena belum memahami secara utuh tentang filsafat sendiri.
Untuk memahami apa sebenarnya filsafat itu, tentu saja tidak cukup hanya mengetahui asal-usul dan arti istilah yang digunakan, melainkan juga harus memperhatikan konsep dan definisi yang diberikan oleh para filsuf menurut pemahaman mereka masing-masing. Akan tetapi, perlu pula dikatakan bahwa konsep dan definisi yang diberikan oleh para filsuf itu tidak sama. Bahkan, dapat dikatakan bahwa setiap filsuf memiliki konsep dan membuat definisi yang berbeda dengan filsuf lainnya. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa jumlah konsep dan definisi filsafat adalah sebanyak jumlah fulsuf itu sendiri (Rapar, 1996: 14).
Dalam dunia pendidikan sangat penting kiranya untuk kita memahami filsafat secara utuh sehingga nantinya kita dapat memahami berbagai macam paham (isme) atau aliran yang terdapat dalam filsafat. Ada beberapa aliran-aliran dalam filsafat. Semuanya tentu akan memberikan perspektif tertentu bahkan berbeda pada setiap orang yang menganutnya untuk diaplikasikan dalam bidang apapun termasuk salah satunya dalam bidang pendidikan. Begitu bermanfaatnya filsafat dalam pendidikan yang menjadi dasar bagi ilmu pengetahuan sehingga sampai sekarang peranan filsafat tidak pernah lepas dari semua ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dalam mencari pengetahuan yang menyeluruh penting untuk kita menggunakan filsafat sebagai dasara utama kita dalam berpikir.

B.       Peranan Filsafat Dalam Pendidikan
Manusia dalam kehidupannya sangat tergantung dan berhutang budi kepada ilmu pengetahuan dan teknologi (Wafiroh dan  Siti Syamsiatun, 2013: 42) artinya bahwa ilmu pengetahuan yang sebagian besar diperoleh lewat pendidikan formal dipandang sebagai kebutuhan penting. Dengan pendidikan, pengetahuan yang diperoleh akan lebih sistematis dan terarah.
Pendidikan adalah suatu proses pembelajaran yang berlangsung pada setiap individu baik secara formal maupun non formal dan berlangsung secara terus menerus sampai manusia mati. Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan menggiring manusia untuk mencapai tujuan hidupnya dengan melalui berbagai macam proses. Proses disini secara alamiah diawali dengan munculnya pikiran manusia terhadap sesuatu yang ingin dicapainya, tentu dengan berbagai pertimbangan dan karena itu dibutuhkan kebijakan dalam berpikir. Dalam hal ini filsafat memegang peranan yang  amat penting bagi manusia dalam berpikir untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai tanpa terkecuali dalam pendidikan.
Filsafat,  termasuk  juga  filsafat  pendidikan,  juga mempunyai fungsi  untuk  memberikan  petunjuk  dan  arah  dalam pengembangan  teori-teori  pendidikan  menjadi  ilmu  pendidikan atau  pedagogik.  Suatu  praktek  kependidikan  yang  didasarkan dan  diarahkan  oleh  suatu  filsafat  pendidikan  tertentu,  akan menghasilkan  dan  menimbulkan  bentuk-bentuk  dan  gejala-gejala kependidikan yang tertentu pula. Filsafat, juga berfungsi memberikan arah agar teori pendidikan  yang  telah  dikembangkan  oleh  para  ahlinya,  yang berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai  hubungan dengan  kehidupan  nyata.artinya mengarahkan agar  teori-teori dan pandangan  filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan dalam praktek kependidikan  sesuai  dengan  kenyataan  dan  kebutuhan  hidup yang juga berkembang dalam masyarakat. Di samping itu, adalah merupakan  kenyataan  bahwa  setiap masyarakat  hidup  dengan pandangan  filsafat hidupnya  sendiri-sendiri  yang berbeda antara satu  dengan  yang  lainnya,  dan  dengan  sendirinya  akan menyangkut  kebutuhan-kebutuhan  hidupnya.  Di  sinilah  letak fungsi  filsafat  dan  filsafat  pendidikan  dalam  memilih  dan mengarahkan teori-teori pendidikan dan kalau perlu juga merevisi teori  pendidikan  tersebut,  yang  sesuai  dan  relevan  dengan kebutuhan, tujuan dan pandangan hidup dari masyarakat.
Pendidikan sebagai suatu bentuk kegiatan manusia dalam kehidupannya juga menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hendak dicapai, baik tujuan yang dirumuskan itu bersifat abstrak sampai pada rumusan-rumusan yang dibentuk secara khusus untuk memudahkan pencapaian yang lebih tinggi (Hasbullah, 2013: 10). Sebagian besar manusia menjadikan pendidikan sebagai pijakan untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi dalam hidupnya. Dalam hal ini aplikasi diri merupakan wujud dari keinginan manusia untuk mencapai tujuannya. Ada banyak orang-orang yang sudah mendapatkan kesenangan, kesejahteraan, kekayaan, kebahagiaan dan sebagainya, namun hal itu tidaklah membuatnya berhenti sampai disitu saja melainkan terus mencari apa yang diinginkan. Ada pula orang yang hanya dalam menjalani hidup dengan secara sederhana. Hal-hal yang demikian adalah bisa dikatakan sebagai prinsip dalam menjalani hidup. Secara sadar dan tidak sadar bahwa manusia menjalani hidup dengan berbagai prinsip yang dipegang teguh. Ini erat kaitannya dengan beberapa aliran filsafat yang diaplikasikan oleh manusia dalam menjalani dan untuk mencapai tujuan hidupnya.
 Lebih lanjut Suhartono (2006: 109) mengkatan bahwa pendidikan berkepentingan untuk membangun falsafah hidup agar bisa dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari, dan untuk selanjutnya, kehidupan sehari-hari tersebut selalu dalam keteraturan. Dari pendapat tersebut jelaslah bahwa manusia dalam menjalani kehidupan perlu memegang prinsip yang kemudian dijadikan pedoman agar lebih terarah dalam menjalani hidup. Prinsip hidup tersebut adalah buah dari pemikiran manusia tentang hidup yang mana secara sadar dan tidak sadar diperoleh melalui proses berpikir secara filsafat baik dalam pendidikan formal maupun non formal.


C.      Aliran-aliran Dalam Filsafat
1.      Idealisme
Idealisme diambil dari kata ide yakni sesuatu yang hadir dalam jiwa. Idealisme dapat diartikan sebagai suatu paham atau aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Menurut paham ini, objek-objek fisik tidak dapat dipahami terlepas dari spirit. Idealisme adalah salah satu aliran filsafat pendidikan yang berpaham bahwa pengetahuan dan kebenaran tertinggi adalah ide. Semua bentuk realita adalah manifestasi dalam ide. Karena pandangannya yang idealis itulah idealisme sering disebut sebagai lawan dari aliran realisme. Tetapi, aliran ini justru muncul atas feed back realisme yang menganggap realitas sebagai kebenaran tertinggi. Rapar (1996: 45) menyatakan bahwa segala sesuatu yang tampak dan mewujud nyata dalam alam indrawi hanya merupakan gambaran atau bayangan dari yang sesungguhnya, yang berada di dunia ide.
Idealisme menganggap, bahwa yang konkret hanyalah bayang-bayang, yang terdapat dalam akal pikiran manusia. Kaum idealisme sering menyebutnya dengan ide atau gagasan. Seorang realisme tidak menyetujui pandangan tersebut. Kaum realisme berpendapat bahwa yang ada itu adalah yang nyata, riil, empiris, bisa dipegang, bisa diamati dan lain-lain. Dengan kata lain sesuatu yang nyata adalah sesuatu yang bisa diindrakan (http://hidayatkaryadi.blogspot.com/ akses 27 Januari 2015).
Idealisme merupakan suatu aliran yang mengedepankan akal pikiran manusia. Sehingga sesuatu itu bisa terwujud atas dasar pemikiran manusia. Dalam pendidikan, idealisme merupakan suatu aliran yang berkontribusi besar demi kemajuan pendidikan. Hal tersebut bisa dilihat pada metode dan kurikulum yang digunakan. Idealisme mengembangkan pemikiran peserta didik sehingga menjadikan peserta didik mampu menggunakan akal pikiran atau idenya dengan baik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
Idealisme sangatlah  penting untuk membentuk karakter seseorang, sehingga dengannya keharmonisan dalam masyarakat sosial diharapkan dapat terwujud dengan baik. Secara individual, sikap idealisme sering diidentikkan dengan kebenaran oleh karena perilaku-perilaku menyimpang kerap kali menjadi lawan dari idealisme.


2.      Realisme
Real berarti yang aktual atau yang ada,kata tersebut menunjuk kepada benda ‑ benda atau kejadian-kejadian yang sungguh-sungguh (http :// adipustakawan 01. blogspot. com/ akses 27 Januari 2015). artinya yang bukan sekadar khayalan atau apa yang ada dalam pikiran. Real menunjukkan apa yang ada. Reality adalah keadaan atau sifat benda yang real atau yang ada,yakni bertentangan dengan yang tampak. Dalam arti umum, realisme berarti kepatuhan kepada fakta, kepada apa yang terjadi, jadi bukan kepada yang diharapkan atau yang diinginkan. Akan tetapi dalam filsafat, kata realisme dipakai dalam arti yang lebih teknis.
Dalam arti filsafat yang sempit, realisme berarti anggapan bahwa obyek indera kita adalah real, benda-benda ada, adanya itu terlepas dari kenyataan bahwa benda itu kita ketahui, atau kita persepsikan atau ada hubungannya dengan pikiran kita. Bagi kelompok realis, alam itu, dan satu‑satunya hal yang dapat kita lakukan adalah: menjalin hubungan yang baik dengannya. Kelompok realis berusaha untuk melakukan hal ini, bukan untuk menafsirkannya menurut keinginan atau kepercayaan yang belum dicoba kebenarannya.
3.      Pragmatisme
Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. (http://filsafatpendidikanpragmatisme.blogspot.com / akses 30 Januari 2015)
 Aliran ini bersedia menerima segala sesutau, asal saja hanya membawa akibat praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistis semua bisa diterima sebagai kebenaran dan dasar tindakan asalkan membawa akibat yang praktis yang bermanfaat. Dengan demikian, patokan pragmatisme adalah “manfaat bagi hidup praktis”. Kata pragmatisme sering sekali diucapkan orang. Orang-orang menyebut kata ini biasanya dalam pengertian praktis. Jika orang berkata, Rencana ini kurang pragmatis, maka maksudnya ialah rancangan itu kurang praktis. Pengertian seperti itu tidak begitu jauh dari pengertian pragmatisme yang sebenarnya, tetapi belum menggambarkan keseluruhan pengertian pragmatisme.
Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah, apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata.
Oleh sebab itu kebenaran sifatnya menjadi relatif tidak mutlak. Mungkin sesuatu konsep atau peraturan sama sekali tidak memberikan kegunaan bagi masyarakat tertentu, tetapi terbukti berguna bagi masyarakat yang lain. Maka konsep itu dinyatakan benar oleh masyarakat yang kedua. Pragmatisme dalam perkembangannya mengalami perbedaan kesimpulan walaupun berangkat dari gagasan asal yang sama.

4.      Materialisme
Materialisme, asal katanya dari bahasa Inggris : Materialism, dan ajaran ini menekankan pada keunggulan faktor-faktor”material” atas yang “spiritual” dalam metafisika, teori nilai, fisiologi, epistemologi atau penjelasan historis.
Materialis,  Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satu-satunya substansi. Sebagai teori materialisme termasuk paham ontologi monistik. Materialisme berbeda dengan teori ontologis yang didasarkan pada dualisme atau pluralisme. Dalam memberikan penjelasan tunggal tentang realitas, materialisme berseberangan dengan idealisme. Materialisme adalah ajaran yang menekankan keunggulan faktor-faktor material atas yang spiritual dalam metafisika, teori nilai, fisiologi, epistimologi atau penjelasan historis. Ada beberapa macam materialisme, yaitu materialisme biologis, materialisme parsial, materialisme antropologis, materialisme dialektis, dan materialisme historis. (http://carlos-rosid.blogspot.com / akses 5 Februari 2015)
Materialisme adalah sistem pemikiran yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak dan menolak keberadaan apapun selain materi. Objek pembahasan materialisme sendiri berbeda dengan pembahasan positivisme. Pengetahuan positif merupakan puncak pengetahuan manusia yang disebutnya sebagai pengetahuan ilmiah. Sesuai dengan pandangan tersebut kebenaran metafisik yang diperoleh dalam metafisika ditolak karena kebenarannya sulit dibuktikan dalam kenyataan.Auguste Comte mencoba mengembangkan Positivisme ke dalam agama atau sebagai pengganti agama. Hal ini terbukti dengan didirikannya Positive Societies di berbagai tempat yang memuja kemanusiaan sebagai ganti memuja Tuhan. Perkembangan selanjutnya dari aliran ini melahirkan aliran yang bertumpu kepada isi dan fakta-fakta yang bersifat materi, yang dikenal dengan Materialisme. Di dalam ajaran materialisme metafisika tidak ditolak karena materialisme sendiri berdasarkan metafisika. Metafisika sendiri di dalam kamus ilmiah popular memiliki arti salah satu cabang filsafat yang membicarakan problem watak yang sangat mendasar dari pada benda di belakang pengalaman yang langsung secara komprehensif.

D.      Penutup
Begitu berartinya dunia filsafat bagi kehidupan manusia dalam berbagai bidang. Tuntutan ilmu pengetahuan yang semakin hari semakin maju tentu menjadi sebuah motivasi tersendiri bagi kita untuk terus mempelajarinya sampai pada titik dimana manusia hanya berpikir bahwa ternyata eksistensi alam semesta ini ada yang menguasainya. Banyaknya aliran dalam bidang filsafat tentu telah menjadi dasar untuk bagaimana kita mengembangkan serta mengaplikasikannya dalam kehidupan shari-hari baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, religious, politik, dan sebagainya. Aliran-aliran filsafat tersebut telah menjadi pijakan utama manusia dalam mengkaji sebuah masalah yang muncul dalam kehidupan ini. Dari situ jugalah kita dapat menentukan orientasi hidup kita sehingga tujuan hidup dapat tercapai dengan baik.
Terkhusus dalam dunia pendidikan, filsafat merupakan sarana untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri. Dengan filsafat, pendidikan diharapkan dapat dikaji dan dikembangkan lebih dalam lagi dengan memperhatikan berbagai macam sudut pandang keilmuan. Sehingga pengetahuan-pengetahuan baru dapat kita temukan dengan cara yang ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.











Daftar Pustaka

Adi, Pustakawan. 2015. “Filsafat Realisme”
Carlos, Rosid. 2015. “Materialisme”. http://carlos-rosid.blogspot.com /2012/04/materialisme.htmlcarlos.rosid/ (akses 5 Februari 2015)
Hasbullah. 2013. “Dasar-dasar Ilmu Pendidikan”. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Hidayat, Karyadi. 2015. “Filsafat Pendidikan : Idealisme. http://hidayatkaryadi.blogspot.com/2013/12/idealisme.html (akses 27 Januari 2015)
Lutfiana. 2015. “Filsafat Pendidikan Pragmatisme”
Rapar, Jan Hendrik. 1996. “Pengantar Filsafat”. Yagyakarta: Kanisius
Suhartono, Suparlan. 2006. “Filsafat Pendidikan”. Yogyakarta: Ar-Ruzz
Wafiroh, Nihayatu dan Syamsiatun, Siti. 2013. “Filsafat, Etika, dan Kearifan Lokal untuk Konstruksi Moral Kebangsaan”. Geneva: Globethics.net Focus 7 
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar