Aliran-aliran Filsafat Pendidikan
: Idealisme, Realisme,
Pragmatisme dan Materialisme
Oleh :
M. Al Akbar
A. Pendahuluan
Berpikir merupakan suatu proses alamiah
yang dialami oleh setiap manusia. Proses
berpikir tentang suatu masalah atau objek tentunya berbeda-beda pada setiap
individu, semua bergantung pada pola pikir atau mind set masing-masing.
Tentunya peranan filsafat dalam hal ini sangat penting bagi kita. Filsafat
dalam artian adalah berpikir secara mendalam serta melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Dengan
berpikir secara filsafat maka kita akan digiring untuk memikirkan suatu objek
masalah dari berbagai sudut pandang sehinggga nantinya kita akan mendapatkan
pengetahuan dan kebenaran yang konprehensiv tentang objek tersebut.
Kiranya figur seorang filsuf itu dapat
digambarkan sebagai orang yang selalu mendambakan pengetahuan yang mendalam dan
meluas, teguh pada prinsip kebenaran ilmiah yang berguna bagi manusia demi
dinamika hidup dan kehidupan, sehingga membuat perasaan menjadi selalu tertarik
(tidak membosankan) untuk mengembangkan hidup ini menjadi kehidupan yang
senantiasa tertuju kepada kebahagiaan sejati (Suhartono, 2004: 54). Dewasa ini
banyak diantara kita yang belum mengaplikasikan cara berpikir filsafat sehingga
kadang kala dalam menemukan masalah agak sulit untuk menemukan solusi dari
masalah tersebut oleh karena belum memahami secara utuh tentang filsafat
sendiri.
Untuk memahami apa sebenarnya filsafat
itu, tentu saja tidak cukup hanya mengetahui asal-usul dan arti istilah yang
digunakan, melainkan juga harus memperhatikan konsep dan definisi yang
diberikan oleh para filsuf menurut pemahaman mereka masing-masing. Akan tetapi,
perlu pula dikatakan bahwa konsep dan definisi yang diberikan oleh para filsuf
itu tidak sama. Bahkan, dapat dikatakan bahwa setiap filsuf memiliki konsep dan
membuat definisi yang berbeda dengan filsuf lainnya. Karena itu, ada yang
mengatakan bahwa jumlah konsep dan definisi filsafat adalah sebanyak jumlah
fulsuf itu sendiri (Rapar, 1996: 14).
Dalam dunia pendidikan sangat penting
kiranya untuk kita memahami filsafat secara utuh sehingga nantinya kita dapat
memahami berbagai macam paham (isme) atau aliran yang terdapat dalam filsafat.
Ada beberapa aliran-aliran dalam filsafat. Semuanya tentu akan memberikan
perspektif tertentu bahkan berbeda pada setiap orang yang menganutnya untuk
diaplikasikan dalam bidang apapun termasuk salah satunya dalam bidang
pendidikan. Begitu bermanfaatnya filsafat dalam pendidikan yang menjadi dasar
bagi ilmu pengetahuan sehingga sampai sekarang peranan filsafat tidak pernah
lepas dari semua ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dalam mencari pengetahuan
yang menyeluruh penting untuk kita menggunakan filsafat sebagai dasara utama
kita dalam berpikir.
B. Peranan Filsafat Dalam Pendidikan
Manusia dalam kehidupannya sangat
tergantung dan berhutang budi kepada ilmu pengetahuan dan teknologi (Wafiroh
dan Siti Syamsiatun, 2013: 42) artinya
bahwa ilmu pengetahuan yang sebagian besar diperoleh lewat pendidikan formal
dipandang sebagai kebutuhan penting. Dengan pendidikan, pengetahuan yang
diperoleh akan lebih sistematis dan terarah.
Pendidikan adalah suatu proses
pembelajaran yang berlangsung pada setiap individu baik secara formal maupun
non formal dan berlangsung secara terus menerus sampai manusia mati. Dalam Undang-Undang
No. 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan menggiring
manusia untuk mencapai tujuan hidupnya dengan melalui berbagai macam proses.
Proses disini secara alamiah diawali dengan munculnya pikiran manusia terhadap
sesuatu yang ingin dicapainya, tentu dengan berbagai pertimbangan dan karena
itu dibutuhkan kebijakan dalam berpikir. Dalam hal ini filsafat memegang
peranan yang amat penting bagi manusia
dalam berpikir untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai tanpa terkecuali dalam
pendidikan.
Filsafat, termasuk
juga filsafat pendidikan,
juga mempunyai fungsi untuk memberikan
petunjuk dan arah
dalam pengembangan
teori-teori pendidikan menjadi
ilmu pendidikan atau pedagogik.
Suatu praktek kependidikan
yang didasarkan dan diarahkan
oleh suatu filsafat
pendidikan tertentu, akan menghasilkan dan
menimbulkan bentuk-bentuk dan
gejala-gejala kependidikan yang tertentu pula. Filsafat, juga berfungsi
memberikan arah agar teori pendidikan
yang telah dikembangkan
oleh para ahlinya,
yang berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai hubungan dengan kehidupan
nyata.artinya mengarahkan agar
teori-teori dan pandangan
filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan
dalam praktek kependidikan sesuai dengan
kenyataan dan kebutuhan
hidup yang juga berkembang dalam masyarakat. Di samping itu, adalah merupakan kenyataan
bahwa setiap masyarakat hidup
dengan pandangan filsafat
hidupnya sendiri-sendiri yang berbeda antara satu dengan
yang lainnya, dan
dengan sendirinya akan menyangkut kebutuhan-kebutuhan hidupnya.
Di sinilah letak fungsi
filsafat dan filsafat
pendidikan dalam memilih
dan mengarahkan teori-teori pendidikan dan kalau perlu juga merevisi teori pendidikan
tersebut, yang sesuai
dan relevan dengan kebutuhan, tujuan dan pandangan hidup
dari masyarakat.
Pendidikan sebagai suatu bentuk kegiatan
manusia dalam kehidupannya juga menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hendak
dicapai, baik tujuan yang dirumuskan itu bersifat abstrak sampai pada
rumusan-rumusan yang dibentuk secara khusus untuk memudahkan pencapaian yang
lebih tinggi (Hasbullah, 2013: 10). Sebagian besar manusia menjadikan
pendidikan sebagai pijakan untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi dalam
hidupnya. Dalam hal ini aplikasi diri merupakan wujud dari keinginan manusia
untuk mencapai tujuannya. Ada banyak orang-orang yang sudah mendapatkan kesenangan,
kesejahteraan, kekayaan, kebahagiaan dan sebagainya, namun hal itu tidaklah
membuatnya berhenti sampai disitu saja melainkan terus mencari apa yang
diinginkan. Ada pula orang yang hanya dalam menjalani hidup dengan secara
sederhana. Hal-hal yang demikian adalah bisa dikatakan sebagai prinsip dalam menjalani
hidup. Secara sadar dan tidak sadar bahwa manusia menjalani hidup dengan
berbagai prinsip yang dipegang teguh. Ini erat kaitannya dengan beberapa aliran
filsafat yang diaplikasikan oleh manusia dalam menjalani dan untuk mencapai
tujuan hidupnya.
Lebih lanjut Suhartono (2006: 109) mengkatan
bahwa pendidikan berkepentingan untuk membangun falsafah hidup agar bisa
dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari, dan untuk selanjutnya,
kehidupan sehari-hari tersebut selalu dalam keteraturan. Dari pendapat tersebut
jelaslah bahwa manusia dalam menjalani kehidupan perlu memegang prinsip yang
kemudian dijadikan pedoman agar lebih terarah dalam menjalani hidup. Prinsip
hidup tersebut adalah buah dari pemikiran manusia tentang hidup yang mana secara
sadar dan tidak sadar diperoleh melalui proses berpikir secara filsafat baik
dalam pendidikan formal maupun non formal.
C. Aliran-aliran Dalam Filsafat
1. Idealisme
Idealisme
diambil dari kata ide yakni sesuatu yang hadir dalam jiwa. Idealisme dapat diartikan
sebagai suatu paham atau aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik
hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Menurut paham ini,
objek-objek fisik tidak dapat dipahami terlepas dari spirit.
Idealisme adalah salah satu aliran
filsafat pendidikan yang berpaham bahwa pengetahuan dan kebenaran tertinggi
adalah ide. Semua bentuk realita adalah manifestasi dalam ide. Karena
pandangannya yang idealis itulah idealisme sering disebut sebagai lawan dari
aliran realisme. Tetapi, aliran ini justru muncul atas feed back realisme yang
menganggap realitas sebagai kebenaran tertinggi. Rapar (1996:
45) menyatakan bahwa segala sesuatu yang tampak dan mewujud nyata dalam alam
indrawi hanya merupakan gambaran atau bayangan dari yang sesungguhnya, yang
berada di dunia ide.
Idealisme
menganggap, bahwa yang konkret hanyalah bayang-bayang, yang terdapat dalam akal
pikiran manusia. Kaum idealisme sering menyebutnya dengan ide atau gagasan.
Seorang realisme tidak menyetujui pandangan tersebut. Kaum realisme berpendapat
bahwa yang ada itu adalah yang nyata, riil, empiris, bisa dipegang, bisa
diamati dan lain-lain. Dengan kata lain sesuatu yang nyata adalah sesuatu yang
bisa diindrakan (http://hidayatkaryadi.blogspot.com/
akses 27 Januari 2015).
Idealisme
merupakan suatu aliran yang mengedepankan akal pikiran manusia. Sehingga
sesuatu itu bisa terwujud atas dasar pemikiran manusia. Dalam pendidikan,
idealisme merupakan suatu aliran yang berkontribusi besar demi kemajuan
pendidikan. Hal tersebut bisa dilihat pada metode dan kurikulum yang digunakan.
Idealisme mengembangkan pemikiran peserta didik sehingga menjadikan peserta
didik mampu menggunakan akal pikiran atau idenya dengan baik dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan.
Idealisme
sangatlah penting untuk membentuk
karakter seseorang, sehingga dengannya keharmonisan dalam masyarakat sosial
diharapkan dapat terwujud dengan baik. Secara individual, sikap idealisme
sering diidentikkan dengan kebenaran oleh karena perilaku-perilaku menyimpang
kerap kali menjadi lawan dari idealisme.
2. Realisme
Real berarti yang aktual atau yang ada,kata tersebut menunjuk kepada benda
‑ benda atau kejadian-kejadian yang sungguh-sungguh (http :// adipustakawan 01. blogspot. com/
akses 27 Januari 2015). artinya yang bukan sekadar khayalan atau apa yang ada
dalam pikiran. Real menunjukkan apa yang ada. Reality adalah keadaan atau sifat
benda yang real atau yang ada,yakni bertentangan dengan yang tampak. Dalam arti
umum, realisme berarti kepatuhan kepada fakta, kepada apa yang terjadi, jadi
bukan kepada yang diharapkan atau yang diinginkan. Akan tetapi dalam filsafat,
kata realisme dipakai dalam arti yang lebih teknis.
Dalam arti filsafat yang
sempit, realisme berarti anggapan bahwa obyek indera kita adalah real,
benda-benda ada, adanya itu terlepas dari kenyataan bahwa benda itu kita
ketahui, atau kita persepsikan atau ada hubungannya dengan pikiran kita. Bagi
kelompok realis, alam itu, dan satu‑satunya hal yang dapat
kita lakukan adalah: menjalin hubungan yang baik dengannya. Kelompok
realis berusaha untuk melakukan hal ini, bukan untuk menafsirkannya
menurut keinginan atau kepercayaan yang belum dicoba kebenarannya.
3. Pragmatisme
Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa Yunani)
yang berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme adalah suatu aliran yang
mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan
perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. (http://filsafatpendidikanpragmatisme.blogspot.com
/ akses 30 Januari 2015)
Aliran ini bersedia menerima segala sesutau,
asal saja hanya membawa akibat praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi,
kebenaran mistis semua bisa diterima sebagai kebenaran dan dasar tindakan
asalkan membawa akibat yang praktis yang bermanfaat. Dengan demikian, patokan
pragmatisme adalah “manfaat bagi hidup praktis”. Kata pragmatisme sering sekali
diucapkan orang. Orang-orang menyebut kata ini biasanya dalam pengertian
praktis. Jika orang berkata, Rencana ini kurang pragmatis, maka maksudnya ialah
rancangan itu kurang praktis. Pengertian seperti itu tidak begitu jauh dari
pengertian pragmatisme yang sebenarnya, tetapi belum menggambarkan keseluruhan
pengertian pragmatisme.
Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat
yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah, apakah sesuatu itu
memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata.
Oleh sebab itu kebenaran sifatnya menjadi relatif tidak mutlak. Mungkin sesuatu konsep atau peraturan sama sekali tidak memberikan kegunaan bagi masyarakat tertentu, tetapi terbukti berguna bagi masyarakat yang lain. Maka konsep itu dinyatakan benar oleh masyarakat yang kedua. Pragmatisme dalam perkembangannya mengalami perbedaan kesimpulan walaupun berangkat dari gagasan asal yang sama.
Oleh sebab itu kebenaran sifatnya menjadi relatif tidak mutlak. Mungkin sesuatu konsep atau peraturan sama sekali tidak memberikan kegunaan bagi masyarakat tertentu, tetapi terbukti berguna bagi masyarakat yang lain. Maka konsep itu dinyatakan benar oleh masyarakat yang kedua. Pragmatisme dalam perkembangannya mengalami perbedaan kesimpulan walaupun berangkat dari gagasan asal yang sama.
4. Materialisme
Materialisme, asal katanya dari bahasa
Inggris : Materialism, dan ajaran ini menekankan pada keunggulan
faktor-faktor”material” atas yang “spiritual” dalam metafisika, teori nilai,
fisiologi, epistemologi atau penjelasan historis.
Materialis,
Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat
dikatakan benar-benar ada adalah materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas
materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah
satu-satunya substansi. Sebagai teori materialisme termasuk paham ontologi
monistik. Materialisme berbeda dengan teori ontologis yang didasarkan pada
dualisme atau pluralisme. Dalam memberikan penjelasan tunggal tentang realitas,
materialisme berseberangan dengan idealisme. Materialisme adalah ajaran yang
menekankan keunggulan faktor-faktor material atas yang spiritual dalam
metafisika, teori nilai, fisiologi, epistimologi atau penjelasan historis. Ada
beberapa macam materialisme, yaitu materialisme biologis, materialisme parsial,
materialisme antropologis, materialisme dialektis, dan materialisme historis. (http://carlos-rosid.blogspot.com / akses 5
Februari 2015)
Materialisme adalah sistem pemikiran
yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak dan menolak
keberadaan apapun selain materi. Objek pembahasan materialisme sendiri
berbeda dengan pembahasan positivisme. Pengetahuan positif merupakan puncak
pengetahuan manusia yang disebutnya sebagai pengetahuan ilmiah. Sesuai dengan
pandangan tersebut kebenaran metafisik yang diperoleh dalam metafisika ditolak
karena kebenarannya sulit dibuktikan dalam kenyataan.Auguste Comte mencoba
mengembangkan Positivisme ke dalam agama atau sebagai pengganti agama. Hal ini
terbukti dengan didirikannya Positive Societies di berbagai
tempat yang memuja kemanusiaan sebagai ganti memuja Tuhan. Perkembangan
selanjutnya dari aliran ini melahirkan aliran yang bertumpu kepada isi dan
fakta-fakta yang bersifat materi, yang dikenal dengan Materialisme. Di dalam
ajaran materialisme metafisika tidak ditolak karena materialisme sendiri
berdasarkan metafisika. Metafisika sendiri di dalam kamus ilmiah popular
memiliki arti salah satu cabang filsafat yang membicarakan problem watak yang
sangat mendasar dari pada benda di belakang pengalaman yang langsung secara komprehensif.
D. Penutup
Begitu berartinya dunia filsafat bagi
kehidupan manusia dalam berbagai bidang. Tuntutan ilmu pengetahuan yang semakin
hari semakin maju tentu menjadi sebuah motivasi tersendiri bagi kita untuk
terus mempelajarinya sampai pada titik dimana manusia hanya berpikir bahwa
ternyata eksistensi alam semesta ini ada yang menguasainya. Banyaknya aliran
dalam bidang filsafat tentu telah menjadi dasar untuk bagaimana kita
mengembangkan serta mengaplikasikannya dalam kehidupan shari-hari baik dalam
bidang pendidikan, ekonomi, religious, politik, dan sebagainya. Aliran-aliran
filsafat tersebut telah menjadi pijakan utama manusia dalam mengkaji sebuah
masalah yang muncul dalam kehidupan ini. Dari situ jugalah kita dapat
menentukan orientasi hidup kita sehingga tujuan hidup dapat tercapai dengan
baik.
Terkhusus dalam dunia pendidikan,
filsafat merupakan sarana untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri. Dengan
filsafat, pendidikan diharapkan dapat dikaji dan dikembangkan lebih dalam lagi
dengan memperhatikan berbagai macam sudut pandang keilmuan. Sehingga
pengetahuan-pengetahuan baru dapat kita temukan dengan cara yang ilmiah dan dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Daftar Pustaka
Adi,
Pustakawan. 2015. “Filsafat Realisme”
Carlos,
Rosid. 2015. “Materialisme”. http://carlos-rosid.blogspot.com /2012/04/materialisme.htmlcarlos.rosid/ (akses 5 Februari 2015)
Hasbullah.
2013. “Dasar-dasar Ilmu Pendidikan”.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Hidayat, Karyadi. 2015. “Filsafat Pendidikan : Idealisme. http://hidayatkaryadi.blogspot.com/2013/12/idealisme.html (akses 27 Januari 2015)
Lutfiana. 2015. “Filsafat Pendidikan Pragmatisme”
http://filsafatpendidikanpragmatisme.blogspot.com (akses 30 Januari
2015)
Rapar,
Jan Hendrik. 1996. “Pengantar Filsafat”.
Yagyakarta: Kanisius
Suhartono,
Suparlan. 2006. “Filsafat Pendidikan”.
Yogyakarta: Ar-Ruzz
Wafiroh,
Nihayatu dan Syamsiatun, Siti. 2013. “Filsafat,
Etika, dan Kearifan Lokal untuk Konstruksi Moral Kebangsaan”. Geneva:
Globethics.net Focus 7
Undang-Undang
No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar