Laman

Kamis, 27 Agustus 2015

SILABUS K13 SMP/MTs TERBARU

SILABUS K13 SMP/MTs TERBARU

Assalamu Alaikum Wr.Wb.

K13 memang merupakan kurikulum baru yang sudah diterapkan dibeberapa Sekolah Piloting di seluruh Indonesia. Kurikulum tersebut telah beberapa kali mengalami revisi oleh karena berbagai sebab tetapi satu hal yang pasti bahwa perubahann tersebut diharapkan untuk menghasilkan sebuah formula yang lebih baik sebagai salah satu landasan dalam pendidikan. 

Banyak rekan-rekan guru dipenjuru tanah air merasa kesulitan untuk menerapkan kurikulum 2013 ini mungkin karena terasa baru, tetapi sesungguhnya kurikulum ini sangat baik karena berbasis saintifik atau dengan pendekatan informasi dan teknologi yang ada. Disamping itu, kreativitas tenaga pendidik sangat dibutuhkan dalam rangka mengakomodir minat dan bakat peserta didik dalam mengikuti setiap proses pembelajaran. Satu hal yang tteramat penting adalah pengembangan karakter merupakan tujuan paling mendasar dalam agenda penerapan kurikulum 2013 ini. 

olehnya itu, sebagai guru atau tenaga pendidikan hendaknya selalu berusaha untuk mendalami K-13 ini sebagai upaya untuk menciptakan dan mengembangkan karakter peserta didik yang baik sehingga tujuan pendidikan nasional dapat terwujud dengan maksimal.

Di bawah ini sengaja penulis memposting file silabus K-13 untuk jenjang SMP/MTs agar rekan-rekan guru dapat terbantukan dalam menyusun perangkat pembelajaran. Silabus tersebut adalah yang terbaru dan sesuai dengan Permendikbud 104 tahun 2014.

Silabus K-13 Terbaru :
4.   Matematika
5.   IPA
6.   IPS
9.   PJOK

Demikian dan terimakasih, semoga bermanfaat....
Wassalam....



Senin, 24 Agustus 2015

Disharmonisasi Pola Hubungan Sosial Antarsiswa di Sekolah Dalam Perspektif Teori Konflik

Disharmonisasi Pola Hubungan Sosial Antarsiswa di Sekolah
Dalam Perspektif Teori Konflik [1]

Oleh :

M. Al Akbar [2]

A.      Pendahuluan
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mengakomodir para peserta didik dalam memperoleh pengetahuan. Di Sekolah, peserta didik juga dibimbing, dilatih serta dibina dalam rangka terciptanya insan akademis yang mampu mandiri dan berprestasi baik secara akademik maupun non akademik. Lembaga pendidikan formal ini memiliki begitu banyak peran dalam proses pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dimana didalamnya terdapat berbagai macam kegiatan yang membentuk karakter peserta didik itu sendiri. Secara umum, siswa melakukan kegiatan belajar demi memenuhi kebutuhan akan pengetahuan, dan disaat yang sama peserta didik juga meperoleh pemahaman-pemahaman tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan sikap dan perilaku yang nantinya akan diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat dalam menyelesaikan probel atau konfilk-konflik yang terjadi sesuai dengan karakter yang dimiliki.
Berkaitan dengan hal di atas, Doni Koesoema (2010: 4) menjelaskan bahwa pendidikan karakter bukan hanya berurusan dengan penanaman nilai bagi siswa, namun sebuah usaha bersama untuk menciptakan sebuah lingkungan pendidikan tempat setiap individu dapat menghayati kebebasannya sebagai sebuah prasyarat bagi kehidupan moral yang dewasa. Dengan ditanamkannya pendidikan yang berorientasi pada terwujudnya karakter peserta didik yang baik, diharapkan tercipta sebuah suasana yang harmonis di lingkungan Sekolah sehingga para siswa dapat saling berinteraksi dengan baik dan dapat menikmati proses belajar yang diikuti setiap harinya secara maksimal.
Setiap anak di Sekolah memiliki karakteristik tersendiri. Kecerdasan emosional yang terdapat dalam diri siswa berbeda pula. Hal inilah yang kemudian membawa perubahan-perubahan pada diri peserta didik sehingga berdampak pada kemampuannya dalam mengelola hubungannya atau interaksinya kesesama temannya maupun kepada guru yang ada di Sekolah.
Secara garis besar kemampuan siswa dalam berinteraksi sosial dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok, yaitu siswa yang dapat dikategorikan sebagai siswa yang bisa berinteraksi sosial dengan baik atau pandai bergaul dan sebaliknya yaitu siswa yang mengalami kesulitan bergaul atau individu yang tidak bisa berinteraksi sosial dengan baik. (http://azizmiftahurrizky.blogspot.com, akses 11 Februari 2015). Banyak siswa yang dianggap tidak mampu mengapresiasikan diri mereka oleh karena kurangnya percaya diri yang dimiliki. Masalah itu kemudian menggiring siswa tersebut tidak aktif untuk melakukan interaksi sosial sesama peserta didik. Dilain sisi, siswa yang memiliki kemampuan interaksi sosial dengan baik lebih memiliki rasa percaya diri yang baik, dan kemudian menggiringnya untuk senantiasa bergaul dan berkomunikasi dengan aktif antar sesama siswa sehingga terbentuk pola-pola hubungan interaksi sosial yang harmonis terkhusus di lingkungan Sekolah sebagai tempat mereka melakukan kegiatan proses belajar.

B.       Perkembangan sosial anak usia sekolah
Setiap anak pasti melalui proses pertumbuhan dan perkembangan dalam hidupnya. Secara normal pertumbuhan dan perkembangan anak akan melalui tahapan-tahapan yang membawa perubahan bagi anak tersebut. Perubahan-perubahan tersebut kemudian memberikan implikasi pada jiwa atau emosional peserta didik. Secara alamiah keadaan tersebut terus berlanjut sampai mencapai usia dewasa.
Menurut Soetjingsih (1995: 1) ada dua peristiwa yang sulit dipisahkan dan sifatnya berbeda tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan satu sama lainnya yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Lebih lanjut ia mendefinisikan tentang pertumbuhan dan perkembangan yaitu :
1.      Pertumbuhan (Growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bias diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh).
2.      Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Termasuk juga perkembangan emosi, inteletual dan tinggkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. (Soetjiningsih, 1995: 1).
Proses pertumbuhan dan perkembangan pada diri anak adalah dua fenomena yang tidak bisa terpisahkan karena kedua hal tersebut saling berkontribusi satu sama lain secara normal. Pada usia sekolah pertumbuhan dan perkembangan peserta didik menitikberatkan pada kemampuan tentang psikis dan fisiologi. Namun dalam makalah ini tidak akan dibahas lebih jauh tentang pertumbuhan anak, sebab akan lebih difokuskan pada proses perkembangan yang di alami oleh anak terutama pada usia sekolah.

Berikut akan dikemukakan beberapa prinsip perkembangan menurut Gunarsa dan Yulia (2008: 4) yaitu :
-        Perkembangan tidak terbatas dalam arti tumbuh menjadi besar tetapi mencakup rangkaian perubahan yang bersifat progresif, teratur, koheren dan berkesinambungan.
-        Perkembangan dimulai dari respons-respons yang sifatnya umum menuju ke yang khusus.
-        Manusia merupakan totalitas sehingga akan ditemui kaitan erat antara perkembangan aspek fisik-motorik, mental, emosi dan sosial.
-        Setiap orang akan mengalami tahapan perkembangan yang berlangsung secara berantai.
-        Setiap fase perkembangan memiliki ciri dan sifat yang khas.
-        Pola perkembangan mengikuti pola yang pasti.
-        Perkembangan terjadi karena faktor kematangan belajar.
-        Setiap individu berbeda.

Dari beberapa prinsip perkembangan di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap individu akan mengalami tahapan-tahapan perkembangan dalam dirinya, baik secara fisik, motorik dan psikis yang terjadi secara teratur dan berkesinambungan dengan karakter tersendiri sesuai dengan pola dan kematangan dirinya. Perkembangan yang terjadi pada seseorang juga akan membawa perubahan besar yang berhubungan dengan keadaan sosialnya dinama adanya relation (interaksi sosial) sangat diperlukan.
Berkaitan dengan fenomena tersebut, perkembangan yang terjadi pada diri anak usia Sekolah adalah hal yang wajar dan itu pasti terjadi dengan melalui beberapa tahapan-tahapan dalam proses interaksinya. Dengan demikian terbentuknya pola-pola hubungan sosial anak usia Sekolah bisa dikatakan karena adanya perkembangan yang terjadi pada diri anak baik itu merupakan aspek fisik, motorik dan psikis.
           
Berikut akan dipaparkan 3 perkembangan anak pada masa usia Sekolah :
Perkembangan sosial anak usia sekolah dasar
Pada masa ini bermain bagi anak adalah sebuah kebutuhan yang tidak bias ditinggalkan. Kebutuhan akan bermain telah menjadi prioritas utama anak pada masa-masa Sekolah Dasar. Dengan bermmain, interaksi sosial sesamanya akan mudah terbentuk oleh karena adanya motivasi untuk selalu bersama meluapkan kegembiraan bersama teman sebayanya. Secara normatif hampir setiap waktu dalam sehari digunakan oleh anak pada usia ini untuk bermain.
Berikut adalah karakteristik perkembangan sosial anak pada usia sekolah dasar yaitu minat terhadap kelompok makin besar, mulai mengurangi keikutsertaannya pada aktivitas keluarga. Pengaruh yang timbul pada keterampilan sosialisasi anak diantaranya berikut ini:
1.      Membantu anak untuk belajar bersama dengan orang lain dan bertingkah laku yang dapat diterima oleh kelompok.
2.      Membantu anak mengembangkan nilai-nilai sosial lain diluar nilainya, dan
3.      Membantu mengembangkan kepribadian yang mandiri dengan mendapatkan kepuasan emosional dari rasa berkawan.
(http://eckaneumandiani.blogspot.com/ akses 10 Februari 2015)
Pada dasarnya karakteristik anak usia ini lebih tertarik dan mengutamakan kelompoknya sehingga waktu-waktu bersama keluarga lebih kurang. Sebagai akibat dari hal tersebut, anak akan mudah dalam menerima dan diterima oleh kelopok. Kemudian nilai sosial dan kepribadian yang mandiri akan didaptkan dari kebersamaannya dalam kelompok.

Perkembangan sosial anak usia sekolah menengah pertama
Masa ini bisa dikatakan adalah masa awal remaja anak. Pada anak usia SMP anak akan mulai melihat identitas dirinya sebagai individu yang mulai berkembang menjadi lebih maju. Kecenderungan untuk bermain secara perlahan semakin kurang karena mulai munculnnya rasa malu untuk diantara teman sebayanya terlebih pada teman lawan jenisnya.
Pada saat remaja awal berjuang untuk memantapkan identitas pribadi yang bebas dari identitas orang tua mereka, mereka juga terus berpaling kepada teman sebaya mereka untuk kemanan dan dukungan sosial. (https://p4radi9ma.wordpress.com / akses 10 Februari 2015).
Persaan untuk bebas dari kawalan orang tua adalah salah satu alasan penting mengapa anak usia remaja awal mulai merasa bahwa ia bisa menjaga dirinya sendiri. Dengan begitu kebebasan untuk berinteraksi sosial dengan sesamanya lebih leluasa dilakukan apalagi melihat perkembangan teknologi sekarang ini menjadikan kita lebih mudah dalam berkomunikasi.

Perkembangan sosial anak usia sekolah menengah atas
Masa transisi adalah masa yang dialami oleh anak usia SMA. Pada masa ini anak akan merasa bingung bahkan susah dalam  menentukan sikapnya oleh karena rasa kebingugan yang timbul dalam pikirannya. Masa peralihan ini adalah saat-saat dimana anak mulai mencari jati drinya sebagai individu.
Ketidakjelasan ini karena mereka berada pada periode transisi, yaitu dari periode kanak-kanak menuju periode orang dewasa. Pada masa tersebut mereka melalui masa yang disebut masa remaja atau pubertas. Umumnya mereka tidak mau dikatakan sebagai anak-anak tapi jika mereka disebut sebagai orang dewasa, mereka secara rill belum siap menyandang predikat sebagai orang dewasa (http://sahabatedhay.blogspot.com/ akses 17 Februari 2015)
Kehidupan sosial anak masa transisi ini lebih banyak dihabiskan dengan kecenderungan saling berinteraksi sesama kelompoknya saja. Ada kotak-kotak yang tercipta oleh karena adanya keinginan untuk menunjukkan identitas dan eksistensinya yang sebenarnya.
C.      Munculnya konflik dikalangan anak yang berimbas pada perilaku anak di Sekolah
Setiap individu pasti memiliki pertentangan dalam dirinya mengenai baik dan tidaknya sesuatu yang dihadapi. Begitu pula pada anak, keputusan untuk melakukan sesuatu terkadang menjadi problematika tersendri dalam dirinya karena belum terbentuknya pola pikir yang baik pada anak. Ketidak mampuan dalam memanajemen masalah yang dihadapi juga termasuk salah satu penyebab konflik dan itu terjadi bahkan bukan pada diri sendiri melainkan juga terjadi sesame anak baik dalam llingkungan belajar maupun dilingkungan non formal lain.
Masalah atau konflik yang terjadi pada siswa bukan tidak mungkin memberikan akibat pada pergaulan sosialnya di lingkungan Sekolah tempat ia belajar. Pada usia sekolah menengah, konflik yang terjadi dikalangan siswa sangat rentan apalagi pada usia perlaihan karena saat itu anak mengalami berbagai problematika baik dengan dirinya sendiri maupun dengan temannya. Kejadian inipun tidak jarang berlanjut di lingkungan Sekolah, ditambah lagi dengan timbulnya masalah-masalah baru di Sekolah sehingga terjadi disharmonisasi hubungan sosial dikalangan siswa.
D.      Upaya menciptkan harmonisasi peserta didik di dalam lingkungan Sekolah
Adanya lembaga pendidikan formal seperti Sekolah yang lengkap dengan tata tertib serta peraturan-peraturan bukannya tidak terbebas dari adanya masalah terutama pada peserta didik. Keberagaman latar belakang siswa dalam sebuah sekolah kerap menjadi dasar terjadinya konflik antar siswa yang menyebabkan keharmonisan hubungan sosial antar peserta didik/siswa tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu perlu adanya usaha untuk menciptakan suasana yang kondusif aman dan tentram sehingga disharmonisasi di lingkungan Sekolah tidak terjadi terutama pada hubungan antar siswa.
Ada beberapa usaha yang patut dicoba dalam rangka menciptaan hubungan yang baik antar siswa di Sekolah yakni :
1.      Penanaman nilai-nilai karakter yang baik kepada siswa.
2.      Pembelajaran yang berorientasi pada terjalinnya kerja sama antar sesame peserta didik.
3.      Kegiatan-kegiatan posit kelompok dengan pendekatan kompetisi.
4.      Pemberian motivasi dengan berbagai cara yang positif.

Upaya di atas sebenarnya telah terkonsep dengan baik dengan adanya program-program yang akan dijalankan oleh banya pihak Sekolah namun disini perlu perlu ditekankan bahwa peran serta guru di Sekolah sangatlah penting karena gurulah yang mengorganisir secara langsung semua bentuk kegiatan di Sekolah.

E.       Peranan guru dalam proses pembentukan karakter anak di Sekolah
Secara khsusus sesuai dengan adanya pembaharuan kurikulum saat ini yang berorientasi pada penanaman nilai karakter bangsa telah memberikan sumbangsi besar dalam proses pembelajaran di Sekolah. Peserta didik diharapkan mampu menjadi individu yang berkualitas secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Guru memiliki peran yang sangat besar dalam membimbing, mengajar dan melatih peserta didik di Sekolah dan itu berlangsung setiap hari secara berkelanjutan sampai siswa menamatkan dirinya pada sebuah Sekolah.
Guru yang memiliki kompetensi yang baik tentu tahu cara-cara yang baik dalam memberikan bimbingan kepada siswa terutama dalam peningkatan nilai-nilai karakter baik yang dimiliki oleh siswa. Komukasi yang baik dengan orang tua siswa tentunya merupakan salah satu cara untuk lebih mengenal karakter siswa sehingga dalam proses pembelajaran dan pembimbingan siswa, guru tidak terlalu mengalami keuslitan dalam menanamkan nilai-nilai karakter tersebut.
Di sekolah, Pendidikan karakter dikaitkan dengan manajemen sekolah. Kepala sekolah dan guru memegang peranan penting dalam merancang, merencanakan, melaksanakan, dan mengontrol kegiatan di sekolah. Situasi ini bisa dijadikan sebagai potensi untuk bisa merancang tujuan pendidikan jangka panjang di sekolah tersebut. Sudah saatnya setiap satuan pendidikan di Indonesia melaksanakan pendidikan karakter di sekolah masing-masing. Guru harus mampu mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam setiap mata pelajaran, termasuk kegiatan ekstrakurikuler. Dengan demikian setiap satuan pendidikan telah proaktif dalam proses internalisasi dan pengamalan nilai dan norma dalam kehidupan nyata.( http://www.m-edukasi.web.id/2013/07/pendidikan-karakter.html/ akses 23 Februari 2015)
Disamping itu, keteladanan dari tenaga pendidik (Guru) maupun tenaga kependidikan sangat penting oleh karena dengan begitu siswa dapat melihat langsung secara rill aplikasi nilai-nilai yang baik sehingga mereka mendapatkan penguatan bukan hanya dari sekedar nasehat atau proses pembinaan yang lain.



F.       Peran pemerintah dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas tenaga pendidik
Upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas Guru sebenarnya telah lama dilakukan seiring dengan perkembangan jaman. Sampai sekarang, upaya peningkatan kompetensi guru dengan pemberian sertifikasi adalah salah satu cara yang ditempuh oleh pemerintah. Namun demikian masih banyak terdapat guru yang ternyata hanya sekedar mendapatkan “Sertifikat” pendidik tapi kemampuan yang dimiliki tetap tidak mengalami perubahan yang baik. Berbagai pelatihan dan penataran juga sudah lama dilakukan namun masih memberikan hasil yang belum maksimal.

Menurut penulis, hal-hal yang harus dilakukan adalah :
1.      Standarisasi dalam perekrutan tenaga pendidikan harus lebih ditingkatkan. Dengan begitu upaya untuk membekali diri calon pendidik (sesuai dengan bidangnya) lebih ditingkatkan lagi sehingga ketika memasuki lingkungan pendidikan, tidak ada lagi kekakuan atau kompetensi yang dimiliki sudah siap untuk mengajar.
2.      Pemerintah harus merubah pola-pola pelatihan atau penataran kepada Guru terkhusus masalah kompetensi dibidang ilmunya. Pola-pola yang selama ini dijalankkan terkesan klasik tanpa adanya pembaharuan dari metode-metode dalam melaksanakan pembelajaran sehingga output yang dihasilkan juga masih stagnan.
3.      Kompetisi untuk para guru masih sangat kurang karena pada kenyataannya informasi hanya sampai pada tataran tingkat provinsi tidak sampai pada tingkat kecamatan. Padahal masih banyak guru-guru yang belum diuji secara kompetisi ditataran daerah Kecamatan bahkan pedesaan. Olehnya itu pemerintah harus lebih jeli melihat problematika ini.
4.      Harus ada evaluasi yang intensif dan berkelanjutan dari pemerintah tentang kemampuan dan kinerja para guru. Bila perlu, sanksi harus diberikan bagi guru yang betul-betul tidak menjalankan fungsinya sebagai tenaga pendidik.
Dilain pihak, guru juga harus secara mandiri meningkatkan kualitas dirinya terutama pada bidang ilmu yang milikinya. Untuk saat ini, pengetahuan tentang IT (Informasi dan Teknologi) sangat penting bagi seorang Guru. Mengiingat kurikulum yang dijalankan pemerintah saat ini adalah berbasis pada penguasaan IT. Sebagai contoh : kalau seorang guru tidak tahu dalam mengoperasikan komputer, bagaimana mungkin ia dapat mengakomodir pembelajaran yang menuntut harus menggunakan perangkat IT? Ini tentu menjadi masalah karena dengan itu keinginan siswa dalam belajar tidak dapat terakomodir dengan maksimal, hasilnya siswa akan mendapatkan penngetahuan yang minim pula.

G.      Penutup
Harmosisasi di lingkungan pendidikan formal yakni Sekolah sangatlah penting untuk diciptkan mengingat hal tersebut sangat baik sebagai penunjang terciptanya proses pembelajaran yang baik. Hubungan sosial antar siswa perlu dijaga dan ditingkatkan agar tidak terjadi konflik-konflik yang dapat memecah belah hubungan sosial anak di Sekolah. Tentu perannan Guru sebagai pendidikan sangat penting dalam mengorganisir siswa dalam setiap kegiatan yang dilakukan. Adanya pengawasan terhadap peserta didik juga sangat penting dilakukan agar siswa tidak terbiasa melakukan hal-hal yang merugikan semua pihak.











Daftar Pustaka
Fajarsyah, Yane. 2015. “Perkembangan Sosial Anak Sekolah Dasar”.

Gunarsa D., Singgih dan Singgih, Yulia. 2008. “Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja”. Jakarta : Gunung Mulia

Jibran, Jasman. 2015. “Peran Guru Dalam Pendidikan Karakter”.

Koesoema A., Doni. 2010. “Pendidikan Karakter: Strategi Mendidikan Anak dizaman Global”. Jakarta : Grasindo

Rizky, Aziz Miftahur. 2015. “Hubungan Interaksi Sosial Siswa Dengan SikapTerhadap Pembelajaran”.

Soetjinginsih. 1995. “Tumbuh Kembang Anak”. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC

Wulandari, Krishma. 2015. “Perkembangan Sosial Anak Masa Sekolah Menengah Pertama”. https://p4radi9ma.wordpress.com/sosial-2/perkembangan-sosial-anak-masa-sekolah-menengah-pertama/ (akses 10 februari 2015)






[1] Makalah sebagai bahan referensi pembelajaran di Sekolah
[2] Guru Penjaskes pada SMP Negeri 03 Poleang

Minggu, 23 Agustus 2015

RPP KURIKULUM 2013 PJOK KELAS VIII TERBARU DAN TERLENGKAP


Bagi rekan-rekan guru PJOK yang memerlukan RPP K13 Mata pelajaran PJOK kelas VIII SMP, bisa menghubungi nomor 
Hp 085241668852.
Setidaknya bagi anda yang merasa kesulitan menyusun RPP PJOK K13 kelas VIII SMP bisa terbantukan dengan adanya postingann ini.

Ada 14 KD (Kompetensi dasar) yang telah dibuat berdasarkan Permendiknas No. 103 Tahun 2014 yang screnshoot filenya ada di bawah ini. Kalau anda berminat cukup hubungi No. Hp di atas baik SMS maupun Telelpon langsung. Sebagai contoh anda bisa download satu KD (Kompetensi dasar) salah satu permainan bola besar (Sepak Bola) di https://www.scribd.com/doc/275716213/1-Sepak-Bola


Terima kasih semoga bermanfaat...

Selasa, 18 Agustus 2015

Aliran-aliran Filsafat Pendidikan : Idealisme, Realisme,
Pragmatisme dan Materialisme

Oleh :

M. Al Akbar

A.      Pendahuluan
Berpikir merupakan suatu proses alamiah yang  dialami oleh setiap manusia. Proses berpikir tentang suatu masalah atau objek tentunya berbeda-beda pada setiap individu, semua bergantung pada pola pikir atau mind set masing-masing. Tentunya peranan filsafat dalam hal ini sangat penting bagi kita. Filsafat dalam artian adalah berpikir secara mendalam serta melihat  sesuatu dari berbagai sudut pandang. Dengan berpikir secara filsafat maka kita akan digiring untuk memikirkan suatu objek masalah dari berbagai sudut pandang sehinggga nantinya kita akan mendapatkan pengetahuan dan kebenaran yang konprehensiv tentang objek tersebut.  
Kiranya figur seorang filsuf itu dapat digambarkan sebagai orang yang selalu mendambakan pengetahuan yang mendalam dan meluas, teguh pada prinsip kebenaran ilmiah yang berguna bagi manusia demi dinamika hidup dan kehidupan, sehingga membuat perasaan menjadi selalu tertarik (tidak membosankan) untuk mengembangkan hidup ini menjadi kehidupan yang senantiasa tertuju kepada kebahagiaan sejati (Suhartono, 2004: 54). Dewasa ini banyak diantara kita yang belum mengaplikasikan cara berpikir filsafat sehingga kadang kala dalam menemukan masalah agak sulit untuk menemukan solusi dari masalah tersebut oleh karena belum memahami secara utuh tentang filsafat sendiri.
Untuk memahami apa sebenarnya filsafat itu, tentu saja tidak cukup hanya mengetahui asal-usul dan arti istilah yang digunakan, melainkan juga harus memperhatikan konsep dan definisi yang diberikan oleh para filsuf menurut pemahaman mereka masing-masing. Akan tetapi, perlu pula dikatakan bahwa konsep dan definisi yang diberikan oleh para filsuf itu tidak sama. Bahkan, dapat dikatakan bahwa setiap filsuf memiliki konsep dan membuat definisi yang berbeda dengan filsuf lainnya. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa jumlah konsep dan definisi filsafat adalah sebanyak jumlah fulsuf itu sendiri (Rapar, 1996: 14).
Dalam dunia pendidikan sangat penting kiranya untuk kita memahami filsafat secara utuh sehingga nantinya kita dapat memahami berbagai macam paham (isme) atau aliran yang terdapat dalam filsafat. Ada beberapa aliran-aliran dalam filsafat. Semuanya tentu akan memberikan perspektif tertentu bahkan berbeda pada setiap orang yang menganutnya untuk diaplikasikan dalam bidang apapun termasuk salah satunya dalam bidang pendidikan. Begitu bermanfaatnya filsafat dalam pendidikan yang menjadi dasar bagi ilmu pengetahuan sehingga sampai sekarang peranan filsafat tidak pernah lepas dari semua ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dalam mencari pengetahuan yang menyeluruh penting untuk kita menggunakan filsafat sebagai dasara utama kita dalam berpikir.

B.       Peranan Filsafat Dalam Pendidikan
Manusia dalam kehidupannya sangat tergantung dan berhutang budi kepada ilmu pengetahuan dan teknologi (Wafiroh dan  Siti Syamsiatun, 2013: 42) artinya bahwa ilmu pengetahuan yang sebagian besar diperoleh lewat pendidikan formal dipandang sebagai kebutuhan penting. Dengan pendidikan, pengetahuan yang diperoleh akan lebih sistematis dan terarah.
Pendidikan adalah suatu proses pembelajaran yang berlangsung pada setiap individu baik secara formal maupun non formal dan berlangsung secara terus menerus sampai manusia mati. Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan menggiring manusia untuk mencapai tujuan hidupnya dengan melalui berbagai macam proses. Proses disini secara alamiah diawali dengan munculnya pikiran manusia terhadap sesuatu yang ingin dicapainya, tentu dengan berbagai pertimbangan dan karena itu dibutuhkan kebijakan dalam berpikir. Dalam hal ini filsafat memegang peranan yang  amat penting bagi manusia dalam berpikir untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai tanpa terkecuali dalam pendidikan.
Filsafat,  termasuk  juga  filsafat  pendidikan,  juga mempunyai fungsi  untuk  memberikan  petunjuk  dan  arah  dalam pengembangan  teori-teori  pendidikan  menjadi  ilmu  pendidikan atau  pedagogik.  Suatu  praktek  kependidikan  yang  didasarkan dan  diarahkan  oleh  suatu  filsafat  pendidikan  tertentu,  akan menghasilkan  dan  menimbulkan  bentuk-bentuk  dan  gejala-gejala kependidikan yang tertentu pula. Filsafat, juga berfungsi memberikan arah agar teori pendidikan  yang  telah  dikembangkan  oleh  para  ahlinya,  yang berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai  hubungan dengan  kehidupan  nyata.artinya mengarahkan agar  teori-teori dan pandangan  filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan dalam praktek kependidikan  sesuai  dengan  kenyataan  dan  kebutuhan  hidup yang juga berkembang dalam masyarakat. Di samping itu, adalah merupakan  kenyataan  bahwa  setiap masyarakat  hidup  dengan pandangan  filsafat hidupnya  sendiri-sendiri  yang berbeda antara satu  dengan  yang  lainnya,  dan  dengan  sendirinya  akan menyangkut  kebutuhan-kebutuhan  hidupnya.  Di  sinilah  letak fungsi  filsafat  dan  filsafat  pendidikan  dalam  memilih  dan mengarahkan teori-teori pendidikan dan kalau perlu juga merevisi teori  pendidikan  tersebut,  yang  sesuai  dan  relevan  dengan kebutuhan, tujuan dan pandangan hidup dari masyarakat.
Pendidikan sebagai suatu bentuk kegiatan manusia dalam kehidupannya juga menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hendak dicapai, baik tujuan yang dirumuskan itu bersifat abstrak sampai pada rumusan-rumusan yang dibentuk secara khusus untuk memudahkan pencapaian yang lebih tinggi (Hasbullah, 2013: 10). Sebagian besar manusia menjadikan pendidikan sebagai pijakan untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi dalam hidupnya. Dalam hal ini aplikasi diri merupakan wujud dari keinginan manusia untuk mencapai tujuannya. Ada banyak orang-orang yang sudah mendapatkan kesenangan, kesejahteraan, kekayaan, kebahagiaan dan sebagainya, namun hal itu tidaklah membuatnya berhenti sampai disitu saja melainkan terus mencari apa yang diinginkan. Ada pula orang yang hanya dalam menjalani hidup dengan secara sederhana. Hal-hal yang demikian adalah bisa dikatakan sebagai prinsip dalam menjalani hidup. Secara sadar dan tidak sadar bahwa manusia menjalani hidup dengan berbagai prinsip yang dipegang teguh. Ini erat kaitannya dengan beberapa aliran filsafat yang diaplikasikan oleh manusia dalam menjalani dan untuk mencapai tujuan hidupnya.
 Lebih lanjut Suhartono (2006: 109) mengkatan bahwa pendidikan berkepentingan untuk membangun falsafah hidup agar bisa dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari, dan untuk selanjutnya, kehidupan sehari-hari tersebut selalu dalam keteraturan. Dari pendapat tersebut jelaslah bahwa manusia dalam menjalani kehidupan perlu memegang prinsip yang kemudian dijadikan pedoman agar lebih terarah dalam menjalani hidup. Prinsip hidup tersebut adalah buah dari pemikiran manusia tentang hidup yang mana secara sadar dan tidak sadar diperoleh melalui proses berpikir secara filsafat baik dalam pendidikan formal maupun non formal.


C.      Aliran-aliran Dalam Filsafat
1.      Idealisme
Idealisme diambil dari kata ide yakni sesuatu yang hadir dalam jiwa. Idealisme dapat diartikan sebagai suatu paham atau aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Menurut paham ini, objek-objek fisik tidak dapat dipahami terlepas dari spirit. Idealisme adalah salah satu aliran filsafat pendidikan yang berpaham bahwa pengetahuan dan kebenaran tertinggi adalah ide. Semua bentuk realita adalah manifestasi dalam ide. Karena pandangannya yang idealis itulah idealisme sering disebut sebagai lawan dari aliran realisme. Tetapi, aliran ini justru muncul atas feed back realisme yang menganggap realitas sebagai kebenaran tertinggi. Rapar (1996: 45) menyatakan bahwa segala sesuatu yang tampak dan mewujud nyata dalam alam indrawi hanya merupakan gambaran atau bayangan dari yang sesungguhnya, yang berada di dunia ide.
Idealisme menganggap, bahwa yang konkret hanyalah bayang-bayang, yang terdapat dalam akal pikiran manusia. Kaum idealisme sering menyebutnya dengan ide atau gagasan. Seorang realisme tidak menyetujui pandangan tersebut. Kaum realisme berpendapat bahwa yang ada itu adalah yang nyata, riil, empiris, bisa dipegang, bisa diamati dan lain-lain. Dengan kata lain sesuatu yang nyata adalah sesuatu yang bisa diindrakan (http://hidayatkaryadi.blogspot.com/ akses 27 Januari 2015).
Idealisme merupakan suatu aliran yang mengedepankan akal pikiran manusia. Sehingga sesuatu itu bisa terwujud atas dasar pemikiran manusia. Dalam pendidikan, idealisme merupakan suatu aliran yang berkontribusi besar demi kemajuan pendidikan. Hal tersebut bisa dilihat pada metode dan kurikulum yang digunakan. Idealisme mengembangkan pemikiran peserta didik sehingga menjadikan peserta didik mampu menggunakan akal pikiran atau idenya dengan baik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
Idealisme sangatlah  penting untuk membentuk karakter seseorang, sehingga dengannya keharmonisan dalam masyarakat sosial diharapkan dapat terwujud dengan baik. Secara individual, sikap idealisme sering diidentikkan dengan kebenaran oleh karena perilaku-perilaku menyimpang kerap kali menjadi lawan dari idealisme.


2.      Realisme
Real berarti yang aktual atau yang ada,kata tersebut menunjuk kepada benda ‑ benda atau kejadian-kejadian yang sungguh-sungguh (http :// adipustakawan 01. blogspot. com/ akses 27 Januari 2015). artinya yang bukan sekadar khayalan atau apa yang ada dalam pikiran. Real menunjukkan apa yang ada. Reality adalah keadaan atau sifat benda yang real atau yang ada,yakni bertentangan dengan yang tampak. Dalam arti umum, realisme berarti kepatuhan kepada fakta, kepada apa yang terjadi, jadi bukan kepada yang diharapkan atau yang diinginkan. Akan tetapi dalam filsafat, kata realisme dipakai dalam arti yang lebih teknis.
Dalam arti filsafat yang sempit, realisme berarti anggapan bahwa obyek indera kita adalah real, benda-benda ada, adanya itu terlepas dari kenyataan bahwa benda itu kita ketahui, atau kita persepsikan atau ada hubungannya dengan pikiran kita. Bagi kelompok realis, alam itu, dan satu‑satunya hal yang dapat kita lakukan adalah: menjalin hubungan yang baik dengannya. Kelompok realis berusaha untuk melakukan hal ini, bukan untuk menafsirkannya menurut keinginan atau kepercayaan yang belum dicoba kebenarannya.
3.      Pragmatisme
Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. (http://filsafatpendidikanpragmatisme.blogspot.com / akses 30 Januari 2015)
 Aliran ini bersedia menerima segala sesutau, asal saja hanya membawa akibat praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistis semua bisa diterima sebagai kebenaran dan dasar tindakan asalkan membawa akibat yang praktis yang bermanfaat. Dengan demikian, patokan pragmatisme adalah “manfaat bagi hidup praktis”. Kata pragmatisme sering sekali diucapkan orang. Orang-orang menyebut kata ini biasanya dalam pengertian praktis. Jika orang berkata, Rencana ini kurang pragmatis, maka maksudnya ialah rancangan itu kurang praktis. Pengertian seperti itu tidak begitu jauh dari pengertian pragmatisme yang sebenarnya, tetapi belum menggambarkan keseluruhan pengertian pragmatisme.
Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah, apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata.
Oleh sebab itu kebenaran sifatnya menjadi relatif tidak mutlak. Mungkin sesuatu konsep atau peraturan sama sekali tidak memberikan kegunaan bagi masyarakat tertentu, tetapi terbukti berguna bagi masyarakat yang lain. Maka konsep itu dinyatakan benar oleh masyarakat yang kedua. Pragmatisme dalam perkembangannya mengalami perbedaan kesimpulan walaupun berangkat dari gagasan asal yang sama.

4.      Materialisme
Materialisme, asal katanya dari bahasa Inggris : Materialism, dan ajaran ini menekankan pada keunggulan faktor-faktor”material” atas yang “spiritual” dalam metafisika, teori nilai, fisiologi, epistemologi atau penjelasan historis.
Materialis,  Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satu-satunya substansi. Sebagai teori materialisme termasuk paham ontologi monistik. Materialisme berbeda dengan teori ontologis yang didasarkan pada dualisme atau pluralisme. Dalam memberikan penjelasan tunggal tentang realitas, materialisme berseberangan dengan idealisme. Materialisme adalah ajaran yang menekankan keunggulan faktor-faktor material atas yang spiritual dalam metafisika, teori nilai, fisiologi, epistimologi atau penjelasan historis. Ada beberapa macam materialisme, yaitu materialisme biologis, materialisme parsial, materialisme antropologis, materialisme dialektis, dan materialisme historis. (http://carlos-rosid.blogspot.com / akses 5 Februari 2015)
Materialisme adalah sistem pemikiran yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak dan menolak keberadaan apapun selain materi. Objek pembahasan materialisme sendiri berbeda dengan pembahasan positivisme. Pengetahuan positif merupakan puncak pengetahuan manusia yang disebutnya sebagai pengetahuan ilmiah. Sesuai dengan pandangan tersebut kebenaran metafisik yang diperoleh dalam metafisika ditolak karena kebenarannya sulit dibuktikan dalam kenyataan.Auguste Comte mencoba mengembangkan Positivisme ke dalam agama atau sebagai pengganti agama. Hal ini terbukti dengan didirikannya Positive Societies di berbagai tempat yang memuja kemanusiaan sebagai ganti memuja Tuhan. Perkembangan selanjutnya dari aliran ini melahirkan aliran yang bertumpu kepada isi dan fakta-fakta yang bersifat materi, yang dikenal dengan Materialisme. Di dalam ajaran materialisme metafisika tidak ditolak karena materialisme sendiri berdasarkan metafisika. Metafisika sendiri di dalam kamus ilmiah popular memiliki arti salah satu cabang filsafat yang membicarakan problem watak yang sangat mendasar dari pada benda di belakang pengalaman yang langsung secara komprehensif.

D.      Penutup
Begitu berartinya dunia filsafat bagi kehidupan manusia dalam berbagai bidang. Tuntutan ilmu pengetahuan yang semakin hari semakin maju tentu menjadi sebuah motivasi tersendiri bagi kita untuk terus mempelajarinya sampai pada titik dimana manusia hanya berpikir bahwa ternyata eksistensi alam semesta ini ada yang menguasainya. Banyaknya aliran dalam bidang filsafat tentu telah menjadi dasar untuk bagaimana kita mengembangkan serta mengaplikasikannya dalam kehidupan shari-hari baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, religious, politik, dan sebagainya. Aliran-aliran filsafat tersebut telah menjadi pijakan utama manusia dalam mengkaji sebuah masalah yang muncul dalam kehidupan ini. Dari situ jugalah kita dapat menentukan orientasi hidup kita sehingga tujuan hidup dapat tercapai dengan baik.
Terkhusus dalam dunia pendidikan, filsafat merupakan sarana untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri. Dengan filsafat, pendidikan diharapkan dapat dikaji dan dikembangkan lebih dalam lagi dengan memperhatikan berbagai macam sudut pandang keilmuan. Sehingga pengetahuan-pengetahuan baru dapat kita temukan dengan cara yang ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.











Daftar Pustaka

Adi, Pustakawan. 2015. “Filsafat Realisme”
Carlos, Rosid. 2015. “Materialisme”. http://carlos-rosid.blogspot.com /2012/04/materialisme.htmlcarlos.rosid/ (akses 5 Februari 2015)
Hasbullah. 2013. “Dasar-dasar Ilmu Pendidikan”. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Hidayat, Karyadi. 2015. “Filsafat Pendidikan : Idealisme. http://hidayatkaryadi.blogspot.com/2013/12/idealisme.html (akses 27 Januari 2015)
Lutfiana. 2015. “Filsafat Pendidikan Pragmatisme”
Rapar, Jan Hendrik. 1996. “Pengantar Filsafat”. Yagyakarta: Kanisius
Suhartono, Suparlan. 2006. “Filsafat Pendidikan”. Yogyakarta: Ar-Ruzz
Wafiroh, Nihayatu dan Syamsiatun, Siti. 2013. “Filsafat, Etika, dan Kearifan Lokal untuk Konstruksi Moral Kebangsaan”. Geneva: Globethics.net Focus 7 
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.