1. SEPAK BOLA
SILAHKAN DOWNLOAD DI SINI
Kreatif Idealis
Laman
Senin, 26 Juni 2017
Kamis, 27 Agustus 2015
SILABUS K13 SMP/MTs TERBARU
SILABUS K13 SMP/MTs TERBARU
Assalamu Alaikum Wr.Wb.
Assalamu Alaikum Wr.Wb.
K13 memang merupakan kurikulum baru yang sudah diterapkan dibeberapa Sekolah Piloting di seluruh Indonesia. Kurikulum tersebut telah beberapa kali mengalami revisi oleh karena berbagai sebab tetapi satu hal yang pasti bahwa perubahann tersebut diharapkan untuk menghasilkan sebuah formula yang lebih baik sebagai salah satu landasan dalam pendidikan.
Banyak rekan-rekan guru dipenjuru tanah air merasa kesulitan untuk menerapkan kurikulum 2013 ini mungkin karena terasa baru, tetapi sesungguhnya kurikulum ini sangat baik karena berbasis saintifik atau dengan pendekatan informasi dan teknologi yang ada. Disamping itu, kreativitas tenaga pendidik sangat dibutuhkan dalam rangka mengakomodir minat dan bakat peserta didik dalam mengikuti setiap proses pembelajaran. Satu hal yang tteramat penting adalah pengembangan karakter merupakan tujuan paling mendasar dalam agenda penerapan kurikulum 2013 ini.
olehnya itu, sebagai guru atau tenaga pendidikan hendaknya selalu berusaha untuk mendalami K-13 ini sebagai upaya untuk menciptakan dan mengembangkan karakter peserta didik yang baik sehingga tujuan pendidikan nasional dapat terwujud dengan maksimal.
Di bawah ini sengaja penulis memposting file silabus K-13 untuk jenjang SMP/MTs agar rekan-rekan guru dapat terbantukan dalam menyusun perangkat pembelajaran. Silabus tersebut adalah yang terbaru dan sesuai dengan Permendikbud 104 tahun 2014.
Silabus K-13 Terbaru :
4. Matematika
5. IPA
6. IPS
8. Seni Budaya
9. PJOK
10. Prakarya
Demikian dan terimakasih, semoga bermanfaat....
Wassalam....
Senin, 24 Agustus 2015
Disharmonisasi Pola Hubungan Sosial Antarsiswa di Sekolah Dalam Perspektif Teori Konflik
Disharmonisasi Pola Hubungan Sosial Antarsiswa di
Sekolah
Dalam Perspektif Teori Konflik [1]
Oleh :
M. Al Akbar [2]
A.
Pendahuluan
Sekolah merupakan lembaga pendidikan
formal yang mengakomodir para peserta didik dalam memperoleh pengetahuan. Di
Sekolah, peserta didik juga dibimbing, dilatih serta dibina dalam rangka
terciptanya insan akademis yang mampu mandiri dan berprestasi baik secara
akademik maupun non akademik. Lembaga pendidikan formal ini memiliki begitu
banyak peran dalam proses pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dimana
didalamnya terdapat berbagai macam kegiatan yang membentuk karakter peserta
didik itu sendiri. Secara umum, siswa melakukan kegiatan belajar demi memenuhi
kebutuhan akan pengetahuan, dan disaat yang sama peserta didik juga meperoleh
pemahaman-pemahaman tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan sikap dan
perilaku yang nantinya akan diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat dalam
menyelesaikan probel atau konfilk-konflik yang terjadi sesuai dengan karakter
yang dimiliki.
Berkaitan dengan hal di atas, Doni
Koesoema (2010: 4) menjelaskan bahwa pendidikan karakter bukan hanya berurusan
dengan penanaman nilai bagi siswa, namun sebuah usaha bersama untuk menciptakan
sebuah lingkungan pendidikan tempat setiap individu dapat menghayati
kebebasannya sebagai sebuah prasyarat bagi kehidupan moral yang dewasa. Dengan
ditanamkannya pendidikan yang berorientasi pada terwujudnya karakter peserta
didik yang baik, diharapkan tercipta sebuah suasana yang harmonis di lingkungan
Sekolah sehingga para siswa dapat saling berinteraksi dengan baik dan dapat
menikmati proses belajar yang diikuti setiap harinya secara maksimal.
Setiap anak di Sekolah memiliki
karakteristik tersendiri. Kecerdasan emosional yang terdapat dalam diri siswa
berbeda pula. Hal inilah yang kemudian membawa perubahan-perubahan pada diri
peserta didik sehingga berdampak pada kemampuannya dalam mengelola hubungannya
atau interaksinya kesesama temannya maupun kepada guru yang ada di Sekolah.
Secara garis besar kemampuan siswa dalam berinteraksi
sosial dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok, yaitu siswa yang dapat
dikategorikan sebagai siswa yang bisa
berinteraksi sosial dengan baik atau pandai bergaul dan sebaliknya
yaitu siswa yang mengalami kesulitan bergaul atau individu
yang tidak bisa berinteraksi sosial dengan baik. (http://azizmiftahurrizky.blogspot.com, akses 11 Februari 2015).
Banyak siswa yang dianggap tidak mampu mengapresiasikan diri mereka oleh karena
kurangnya percaya diri yang dimiliki. Masalah itu kemudian menggiring siswa
tersebut tidak aktif untuk melakukan interaksi sosial sesama peserta didik.
Dilain sisi, siswa yang memiliki kemampuan interaksi sosial dengan baik lebih
memiliki rasa percaya diri yang baik, dan kemudian menggiringnya untuk
senantiasa bergaul dan berkomunikasi dengan aktif antar sesama siswa sehingga
terbentuk pola-pola hubungan interaksi sosial yang harmonis terkhusus di
lingkungan Sekolah sebagai tempat mereka melakukan kegiatan proses belajar.
B.
Perkembangan
sosial anak usia sekolah
Setiap anak pasti melalui proses
pertumbuhan dan perkembangan dalam hidupnya. Secara normal pertumbuhan dan
perkembangan anak akan melalui tahapan-tahapan yang membawa perubahan bagi anak
tersebut. Perubahan-perubahan tersebut kemudian memberikan implikasi pada jiwa
atau emosional peserta didik. Secara alamiah keadaan tersebut terus berlanjut
sampai mencapai usia dewasa.
Menurut Soetjingsih (1995: 1) ada dua
peristiwa yang sulit dipisahkan dan sifatnya berbeda tetapi saling berkaitan
dan sulit dipisahkan satu sama lainnya yaitu pertumbuhan dan perkembangan.
Lebih lanjut ia mendefinisikan tentang pertumbuhan dan perkembangan yaitu :
1. Pertumbuhan
(Growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau
dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bias diukur dengan ukuran
berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan
keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh).
2. Perkembangan
(development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi
tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai
hasil dari proses pematangan. Termasuk juga perkembangan emosi, inteletual dan
tinggkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. (Soetjiningsih,
1995: 1).
Proses
pertumbuhan dan perkembangan pada diri anak adalah dua fenomena yang tidak bisa
terpisahkan karena kedua hal tersebut saling berkontribusi satu sama lain
secara normal. Pada usia sekolah pertumbuhan dan perkembangan peserta didik
menitikberatkan pada kemampuan tentang psikis dan fisiologi. Namun dalam
makalah ini tidak akan dibahas lebih jauh tentang pertumbuhan anak, sebab akan
lebih difokuskan pada proses perkembangan yang di alami oleh anak terutama pada
usia sekolah.
Berikut
akan dikemukakan beberapa prinsip perkembangan menurut Gunarsa dan Yulia (2008:
4) yaitu :
-
Perkembangan tidak terbatas dalam arti
tumbuh menjadi besar tetapi mencakup rangkaian perubahan yang bersifat
progresif, teratur, koheren dan berkesinambungan.
-
Perkembangan dimulai dari
respons-respons yang sifatnya umum menuju ke yang khusus.
-
Manusia merupakan totalitas sehingga
akan ditemui kaitan erat antara perkembangan aspek fisik-motorik, mental, emosi
dan sosial.
-
Setiap orang akan mengalami tahapan
perkembangan yang berlangsung secara berantai.
-
Setiap fase perkembangan memiliki ciri
dan sifat yang khas.
-
Pola perkembangan mengikuti pola yang
pasti.
-
Perkembangan terjadi karena faktor
kematangan belajar.
-
Setiap individu berbeda.
Dari beberapa prinsip perkembangan di
atas, dapat disimpulkan bahwa setiap individu akan mengalami tahapan-tahapan
perkembangan dalam dirinya, baik secara fisik, motorik dan psikis yang terjadi
secara teratur dan berkesinambungan dengan karakter tersendiri sesuai dengan
pola dan kematangan dirinya. Perkembangan yang terjadi pada seseorang juga akan
membawa perubahan besar yang berhubungan dengan keadaan sosialnya dinama adanya
relation (interaksi sosial) sangat diperlukan.
Berkaitan dengan fenomena tersebut,
perkembangan yang terjadi pada diri anak usia Sekolah adalah hal yang wajar dan
itu pasti terjadi dengan melalui beberapa tahapan-tahapan dalam proses
interaksinya. Dengan demikian terbentuknya pola-pola hubungan sosial anak usia
Sekolah bisa dikatakan karena adanya perkembangan yang terjadi pada diri anak
baik itu merupakan aspek fisik, motorik dan psikis.
Berikut
akan dipaparkan 3 perkembangan anak pada masa usia Sekolah :
Perkembangan sosial
anak usia sekolah dasar
Pada masa ini bermain bagi anak adalah
sebuah kebutuhan yang tidak bias ditinggalkan. Kebutuhan akan bermain telah
menjadi prioritas utama anak pada masa-masa Sekolah Dasar. Dengan bermmain,
interaksi sosial sesamanya akan mudah terbentuk oleh karena adanya motivasi
untuk selalu bersama meluapkan kegembiraan bersama teman sebayanya. Secara
normatif hampir setiap waktu dalam sehari digunakan oleh anak pada usia ini
untuk bermain.
Berikut adalah karakteristik
perkembangan sosial anak pada usia sekolah dasar yaitu minat terhadap kelompok
makin besar, mulai mengurangi keikutsertaannya pada aktivitas keluarga.
Pengaruh yang timbul pada keterampilan sosialisasi anak diantaranya berikut
ini:
1.
Membantu anak untuk belajar bersama
dengan orang lain dan bertingkah laku yang dapat diterima oleh kelompok.
2.
Membantu anak mengembangkan nilai-nilai
sosial lain diluar nilainya, dan
3.
Membantu mengembangkan kepribadian yang
mandiri dengan mendapatkan kepuasan emosional dari rasa berkawan.
Pada dasarnya karakteristik anak usia
ini lebih tertarik dan mengutamakan kelompoknya sehingga waktu-waktu bersama
keluarga lebih kurang. Sebagai akibat dari hal tersebut, anak akan mudah dalam
menerima dan diterima oleh kelopok. Kemudian nilai sosial dan kepribadian yang
mandiri akan didaptkan dari kebersamaannya dalam kelompok.
Perkembangan sosial
anak usia sekolah menengah pertama
Masa ini bisa dikatakan adalah masa awal
remaja anak. Pada anak usia SMP anak akan mulai melihat identitas dirinya
sebagai individu yang mulai berkembang menjadi lebih maju. Kecenderungan untuk
bermain secara perlahan semakin kurang karena mulai munculnnya rasa malu untuk
diantara teman sebayanya terlebih pada teman lawan jenisnya.
Pada saat remaja awal
berjuang untuk memantapkan identitas pribadi yang bebas dari identitas orang
tua mereka, mereka juga terus berpaling kepada teman sebaya mereka untuk
kemanan dan dukungan sosial. (https://p4radi9ma.wordpress.com / akses 10 Februari 2015).
Persaan untuk bebas
dari kawalan orang tua adalah salah satu alasan penting mengapa anak usia
remaja awal mulai merasa bahwa ia bisa menjaga dirinya sendiri. Dengan begitu
kebebasan untuk berinteraksi sosial dengan sesamanya lebih leluasa dilakukan
apalagi melihat perkembangan teknologi sekarang ini menjadikan kita lebih mudah
dalam berkomunikasi.
Perkembangan sosial
anak usia sekolah menengah atas
Masa transisi adalah masa yang dialami
oleh anak usia SMA. Pada masa ini anak akan merasa bingung bahkan susah
dalam menentukan sikapnya oleh karena
rasa kebingugan yang timbul dalam pikirannya. Masa peralihan ini adalah
saat-saat dimana anak mulai mencari jati drinya sebagai individu.
Ketidakjelasan ini karena mereka berada
pada periode transisi, yaitu dari periode kanak-kanak menuju periode orang
dewasa. Pada masa tersebut mereka melalui masa yang disebut masa remaja atau
pubertas. Umumnya mereka tidak mau dikatakan sebagai anak-anak tapi jika mereka
disebut sebagai orang dewasa, mereka secara rill belum siap menyandang predikat
sebagai orang dewasa (http://sahabatedhay.blogspot.com/
akses 17 Februari 2015)
Kehidupan sosial anak masa transisi ini
lebih banyak dihabiskan dengan kecenderungan saling berinteraksi sesama
kelompoknya saja. Ada kotak-kotak yang tercipta oleh karena adanya keinginan
untuk menunjukkan identitas dan eksistensinya yang sebenarnya.
C.
Munculnya
konflik dikalangan anak yang berimbas pada perilaku anak di Sekolah
Setiap individu pasti memiliki
pertentangan dalam dirinya mengenai baik dan tidaknya sesuatu yang dihadapi. Begitu
pula pada anak, keputusan untuk melakukan sesuatu terkadang menjadi
problematika tersendri dalam dirinya karena belum terbentuknya pola pikir yang
baik pada anak. Ketidak mampuan dalam memanajemen masalah yang dihadapi juga
termasuk salah satu penyebab konflik dan itu terjadi bahkan bukan pada diri
sendiri melainkan juga terjadi sesame anak baik dalam llingkungan belajar
maupun dilingkungan non formal lain.
Masalah atau konflik yang terjadi pada
siswa bukan tidak mungkin memberikan akibat pada pergaulan sosialnya di
lingkungan Sekolah tempat ia belajar. Pada usia sekolah menengah, konflik yang
terjadi dikalangan siswa sangat rentan apalagi pada usia perlaihan karena saat
itu anak mengalami berbagai problematika baik dengan dirinya sendiri maupun
dengan temannya. Kejadian inipun tidak jarang berlanjut di lingkungan Sekolah,
ditambah lagi dengan timbulnya masalah-masalah baru di Sekolah sehingga terjadi
disharmonisasi hubungan sosial dikalangan siswa.
D.
Upaya
menciptkan harmonisasi peserta didik di dalam lingkungan Sekolah
Adanya lembaga pendidikan formal seperti
Sekolah yang lengkap dengan tata tertib serta peraturan-peraturan bukannya
tidak terbebas dari adanya masalah terutama pada peserta didik. Keberagaman
latar belakang siswa dalam sebuah sekolah kerap menjadi dasar terjadinya
konflik antar siswa yang menyebabkan keharmonisan hubungan sosial antar peserta
didik/siswa tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu perlu adanya usaha
untuk menciptakan suasana yang kondusif aman dan tentram sehingga
disharmonisasi di lingkungan Sekolah tidak terjadi terutama pada hubungan antar
siswa.
Ada beberapa usaha yang patut dicoba
dalam rangka menciptaan hubungan yang baik antar siswa di Sekolah yakni :
1. Penanaman
nilai-nilai karakter yang baik kepada siswa.
2. Pembelajaran
yang berorientasi pada terjalinnya kerja sama antar sesame peserta didik.
3. Kegiatan-kegiatan
posit kelompok dengan pendekatan kompetisi.
4. Pemberian
motivasi dengan berbagai cara yang positif.
Upaya
di atas sebenarnya telah terkonsep dengan baik dengan adanya program-program
yang akan dijalankan oleh banya pihak Sekolah namun disini perlu perlu
ditekankan bahwa peran serta guru di Sekolah sangatlah penting karena gurulah
yang mengorganisir secara langsung semua bentuk kegiatan di Sekolah.
E.
Peranan
guru dalam proses pembentukan karakter anak di Sekolah
Secara khsusus sesuai dengan adanya
pembaharuan kurikulum saat ini yang berorientasi pada penanaman nilai karakter
bangsa telah memberikan sumbangsi besar dalam proses pembelajaran di Sekolah.
Peserta didik diharapkan mampu menjadi individu yang berkualitas secara
kuantitatif maupun secara kualitatif. Guru memiliki peran yang sangat besar
dalam membimbing, mengajar dan melatih peserta didik di Sekolah dan itu
berlangsung setiap hari secara berkelanjutan sampai siswa menamatkan dirinya
pada sebuah Sekolah.
Guru yang memiliki kompetensi yang baik
tentu tahu cara-cara yang baik dalam memberikan bimbingan kepada siswa terutama
dalam peningkatan nilai-nilai karakter baik yang dimiliki oleh siswa. Komukasi
yang baik dengan orang tua siswa tentunya merupakan salah satu cara untuk lebih
mengenal karakter siswa sehingga dalam proses pembelajaran dan pembimbingan siswa,
guru tidak terlalu mengalami keuslitan dalam menanamkan nilai-nilai karakter
tersebut.
Di sekolah, Pendidikan karakter
dikaitkan dengan manajemen sekolah. Kepala sekolah dan guru memegang peranan
penting dalam merancang, merencanakan, melaksanakan, dan mengontrol kegiatan di
sekolah. Situasi ini bisa dijadikan sebagai potensi untuk bisa merancang tujuan
pendidikan jangka panjang di sekolah tersebut. Sudah saatnya setiap satuan
pendidikan di Indonesia melaksanakan pendidikan karakter di sekolah masing-masing.
Guru harus mampu mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam setiap mata
pelajaran, termasuk kegiatan ekstrakurikuler. Dengan demikian setiap satuan
pendidikan telah proaktif dalam proses internalisasi dan pengamalan nilai dan
norma dalam kehidupan nyata.( http://www.m-edukasi.web.id/2013/07/pendidikan-karakter.html/
akses 23 Februari 2015)
Disamping itu, keteladanan dari tenaga
pendidik (Guru) maupun tenaga kependidikan sangat penting oleh karena dengan
begitu siswa dapat melihat langsung secara rill aplikasi nilai-nilai yang baik
sehingga mereka mendapatkan penguatan bukan hanya dari sekedar nasehat atau
proses pembinaan yang lain.
F.
Peran
pemerintah dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas tenaga pendidik
Upaya pemerintah dalam meningkatkan
kualitas Guru sebenarnya telah lama dilakukan seiring dengan perkembangan
jaman. Sampai sekarang, upaya peningkatan kompetensi guru dengan pemberian
sertifikasi adalah salah satu cara yang ditempuh oleh pemerintah. Namun
demikian masih banyak terdapat guru yang ternyata hanya sekedar mendapatkan
“Sertifikat” pendidik tapi kemampuan yang dimiliki tetap tidak mengalami
perubahan yang baik. Berbagai pelatihan dan penataran juga sudah lama dilakukan
namun masih memberikan hasil yang belum maksimal.
Menurut
penulis, hal-hal yang harus dilakukan adalah :
1. Standarisasi
dalam perekrutan tenaga pendidikan harus lebih ditingkatkan. Dengan begitu
upaya untuk membekali diri calon pendidik (sesuai dengan bidangnya) lebih
ditingkatkan lagi sehingga ketika memasuki lingkungan pendidikan, tidak ada
lagi kekakuan atau kompetensi yang dimiliki sudah siap untuk mengajar.
2. Pemerintah
harus merubah pola-pola pelatihan atau penataran kepada Guru terkhusus masalah
kompetensi dibidang ilmunya. Pola-pola yang selama ini dijalankkan terkesan
klasik tanpa adanya pembaharuan dari metode-metode dalam melaksanakan
pembelajaran sehingga output yang dihasilkan juga masih stagnan.
3. Kompetisi
untuk para guru masih sangat kurang karena pada kenyataannya informasi hanya
sampai pada tataran tingkat provinsi tidak sampai pada tingkat kecamatan.
Padahal masih banyak guru-guru yang belum diuji secara kompetisi ditataran
daerah Kecamatan bahkan pedesaan. Olehnya itu pemerintah harus lebih jeli
melihat problematika ini.
4. Harus
ada evaluasi yang intensif dan berkelanjutan dari pemerintah tentang kemampuan
dan kinerja para guru. Bila perlu, sanksi harus diberikan bagi guru yang
betul-betul tidak menjalankan fungsinya sebagai tenaga pendidik.
Dilain
pihak, guru juga harus secara mandiri meningkatkan kualitas dirinya terutama
pada bidang ilmu yang milikinya. Untuk saat ini, pengetahuan tentang IT
(Informasi dan Teknologi) sangat penting bagi seorang Guru. Mengiingat
kurikulum yang dijalankan pemerintah saat ini adalah berbasis pada penguasaan
IT. Sebagai contoh : kalau seorang guru tidak tahu dalam mengoperasikan
komputer, bagaimana mungkin ia dapat mengakomodir pembelajaran yang menuntut
harus menggunakan perangkat IT? Ini tentu menjadi masalah karena dengan itu
keinginan siswa dalam belajar tidak dapat terakomodir dengan maksimal, hasilnya
siswa akan mendapatkan penngetahuan yang minim pula.
G.
Penutup
Harmosisasi di lingkungan pendidikan
formal yakni Sekolah sangatlah penting untuk diciptkan mengingat hal tersebut
sangat baik sebagai penunjang terciptanya proses pembelajaran yang baik.
Hubungan sosial antar siswa perlu dijaga dan ditingkatkan agar tidak terjadi
konflik-konflik yang dapat memecah belah hubungan sosial anak di Sekolah. Tentu
perannan Guru sebagai pendidikan sangat penting dalam mengorganisir siswa dalam
setiap kegiatan yang dilakukan. Adanya pengawasan terhadap peserta didik juga
sangat penting dilakukan agar siswa tidak terbiasa melakukan hal-hal yang
merugikan semua pihak.
Daftar Pustaka
Fajarsyah, Yane. 2015. “Perkembangan Sosial Anak Sekolah Dasar”.
Gunarsa D., Singgih dan Singgih, Yulia. 2008. “Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja”.
Jakarta : Gunung Mulia
Jibran, Jasman.
2015. “Peran Guru Dalam Pendidikan
Karakter”.
http://www.m-edukasi.web.id/2013/07/pendidikan-karakter.html/ akses 23
Februari 2015
Koesoema A.,
Doni. 2010. “Pendidikan Karakter:
Strategi Mendidikan Anak dizaman Global”. Jakarta : Grasindo
Rizky, Aziz Miftahur.
2015. “Hubungan Interaksi Sosial Siswa Dengan SikapTerhadap Pembelajaran”.
http://azizmiftahurrizky.blogspot.com/2013/07/hubungan-interaksi-sosial-siswa-dengan.html (tanggal akses, 11 February 2015)
Soetjinginsih. 1995. “Tumbuh Kembang Anak”. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC
Sudrajat, Edi.
2015. “Dinamika Kehidupan Anak Usia
Sekolah”. http://sahabatedhay.blogspot.com/2014/05/makalah-perkembangan-peserta-didik.html
akses 23 Ferbuari 2015
Wulandari,
Krishma. 2015. “Perkembangan Sosial Anak
Masa Sekolah Menengah Pertama”. https://p4radi9ma.wordpress.com/sosial-2/perkembangan-sosial-anak-masa-sekolah-menengah-pertama/ (akses 10
februari 2015)
Minggu, 23 Agustus 2015
RPP KURIKULUM 2013 PJOK KELAS VIII TERBARU DAN TERLENGKAP
Bagi rekan-rekan guru PJOK yang memerlukan RPP K13 Mata pelajaran PJOK kelas VIII SMP, bisa menghubungi nomor
Hp 085241668852.
Setidaknya bagi anda yang merasa kesulitan menyusun RPP PJOK K13 kelas VIII SMP bisa terbantukan dengan adanya postingann ini.
Ada 14 KD (Kompetensi dasar) yang telah dibuat berdasarkan Permendiknas No. 103 Tahun 2014 yang screnshoot filenya ada di bawah ini. Kalau anda berminat cukup hubungi No. Hp di atas baik SMS maupun Telelpon langsung. Sebagai contoh anda bisa download satu KD (Kompetensi dasar) salah satu permainan bola besar (Sepak Bola) di https://www.scribd.com/doc/275716213/1-Sepak-Bola
Terima kasih semoga bermanfaat...
Selasa, 18 Agustus 2015
Aliran-aliran Filsafat Pendidikan
: Idealisme, Realisme,
Pragmatisme dan Materialisme
Oleh :
M. Al Akbar
A. Pendahuluan
Berpikir merupakan suatu proses alamiah
yang dialami oleh setiap manusia. Proses
berpikir tentang suatu masalah atau objek tentunya berbeda-beda pada setiap
individu, semua bergantung pada pola pikir atau mind set masing-masing.
Tentunya peranan filsafat dalam hal ini sangat penting bagi kita. Filsafat
dalam artian adalah berpikir secara mendalam serta melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Dengan
berpikir secara filsafat maka kita akan digiring untuk memikirkan suatu objek
masalah dari berbagai sudut pandang sehinggga nantinya kita akan mendapatkan
pengetahuan dan kebenaran yang konprehensiv tentang objek tersebut.
Kiranya figur seorang filsuf itu dapat
digambarkan sebagai orang yang selalu mendambakan pengetahuan yang mendalam dan
meluas, teguh pada prinsip kebenaran ilmiah yang berguna bagi manusia demi
dinamika hidup dan kehidupan, sehingga membuat perasaan menjadi selalu tertarik
(tidak membosankan) untuk mengembangkan hidup ini menjadi kehidupan yang
senantiasa tertuju kepada kebahagiaan sejati (Suhartono, 2004: 54). Dewasa ini
banyak diantara kita yang belum mengaplikasikan cara berpikir filsafat sehingga
kadang kala dalam menemukan masalah agak sulit untuk menemukan solusi dari
masalah tersebut oleh karena belum memahami secara utuh tentang filsafat
sendiri.
Untuk memahami apa sebenarnya filsafat
itu, tentu saja tidak cukup hanya mengetahui asal-usul dan arti istilah yang
digunakan, melainkan juga harus memperhatikan konsep dan definisi yang
diberikan oleh para filsuf menurut pemahaman mereka masing-masing. Akan tetapi,
perlu pula dikatakan bahwa konsep dan definisi yang diberikan oleh para filsuf
itu tidak sama. Bahkan, dapat dikatakan bahwa setiap filsuf memiliki konsep dan
membuat definisi yang berbeda dengan filsuf lainnya. Karena itu, ada yang
mengatakan bahwa jumlah konsep dan definisi filsafat adalah sebanyak jumlah
fulsuf itu sendiri (Rapar, 1996: 14).
Dalam dunia pendidikan sangat penting
kiranya untuk kita memahami filsafat secara utuh sehingga nantinya kita dapat
memahami berbagai macam paham (isme) atau aliran yang terdapat dalam filsafat.
Ada beberapa aliran-aliran dalam filsafat. Semuanya tentu akan memberikan
perspektif tertentu bahkan berbeda pada setiap orang yang menganutnya untuk
diaplikasikan dalam bidang apapun termasuk salah satunya dalam bidang
pendidikan. Begitu bermanfaatnya filsafat dalam pendidikan yang menjadi dasar
bagi ilmu pengetahuan sehingga sampai sekarang peranan filsafat tidak pernah
lepas dari semua ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dalam mencari pengetahuan
yang menyeluruh penting untuk kita menggunakan filsafat sebagai dasara utama
kita dalam berpikir.
B. Peranan Filsafat Dalam Pendidikan
Manusia dalam kehidupannya sangat
tergantung dan berhutang budi kepada ilmu pengetahuan dan teknologi (Wafiroh
dan Siti Syamsiatun, 2013: 42) artinya
bahwa ilmu pengetahuan yang sebagian besar diperoleh lewat pendidikan formal
dipandang sebagai kebutuhan penting. Dengan pendidikan, pengetahuan yang
diperoleh akan lebih sistematis dan terarah.
Pendidikan adalah suatu proses
pembelajaran yang berlangsung pada setiap individu baik secara formal maupun
non formal dan berlangsung secara terus menerus sampai manusia mati. Dalam Undang-Undang
No. 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan menggiring
manusia untuk mencapai tujuan hidupnya dengan melalui berbagai macam proses.
Proses disini secara alamiah diawali dengan munculnya pikiran manusia terhadap
sesuatu yang ingin dicapainya, tentu dengan berbagai pertimbangan dan karena
itu dibutuhkan kebijakan dalam berpikir. Dalam hal ini filsafat memegang
peranan yang amat penting bagi manusia
dalam berpikir untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai tanpa terkecuali dalam
pendidikan.
Filsafat, termasuk
juga filsafat pendidikan,
juga mempunyai fungsi untuk memberikan
petunjuk dan arah
dalam pengembangan
teori-teori pendidikan menjadi
ilmu pendidikan atau pedagogik.
Suatu praktek kependidikan
yang didasarkan dan diarahkan
oleh suatu filsafat
pendidikan tertentu, akan menghasilkan dan
menimbulkan bentuk-bentuk dan
gejala-gejala kependidikan yang tertentu pula. Filsafat, juga berfungsi
memberikan arah agar teori pendidikan
yang telah dikembangkan
oleh para ahlinya,
yang berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai hubungan dengan kehidupan
nyata.artinya mengarahkan agar
teori-teori dan pandangan
filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan
dalam praktek kependidikan sesuai dengan
kenyataan dan kebutuhan
hidup yang juga berkembang dalam masyarakat. Di samping itu, adalah merupakan kenyataan
bahwa setiap masyarakat hidup
dengan pandangan filsafat
hidupnya sendiri-sendiri yang berbeda antara satu dengan
yang lainnya, dan
dengan sendirinya akan menyangkut kebutuhan-kebutuhan hidupnya.
Di sinilah letak fungsi
filsafat dan filsafat
pendidikan dalam memilih
dan mengarahkan teori-teori pendidikan dan kalau perlu juga merevisi teori pendidikan
tersebut, yang sesuai
dan relevan dengan kebutuhan, tujuan dan pandangan hidup
dari masyarakat.
Pendidikan sebagai suatu bentuk kegiatan
manusia dalam kehidupannya juga menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hendak
dicapai, baik tujuan yang dirumuskan itu bersifat abstrak sampai pada
rumusan-rumusan yang dibentuk secara khusus untuk memudahkan pencapaian yang
lebih tinggi (Hasbullah, 2013: 10). Sebagian besar manusia menjadikan
pendidikan sebagai pijakan untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi dalam
hidupnya. Dalam hal ini aplikasi diri merupakan wujud dari keinginan manusia
untuk mencapai tujuannya. Ada banyak orang-orang yang sudah mendapatkan kesenangan,
kesejahteraan, kekayaan, kebahagiaan dan sebagainya, namun hal itu tidaklah
membuatnya berhenti sampai disitu saja melainkan terus mencari apa yang
diinginkan. Ada pula orang yang hanya dalam menjalani hidup dengan secara
sederhana. Hal-hal yang demikian adalah bisa dikatakan sebagai prinsip dalam menjalani
hidup. Secara sadar dan tidak sadar bahwa manusia menjalani hidup dengan
berbagai prinsip yang dipegang teguh. Ini erat kaitannya dengan beberapa aliran
filsafat yang diaplikasikan oleh manusia dalam menjalani dan untuk mencapai
tujuan hidupnya.
Lebih lanjut Suhartono (2006: 109) mengkatan
bahwa pendidikan berkepentingan untuk membangun falsafah hidup agar bisa
dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari, dan untuk selanjutnya,
kehidupan sehari-hari tersebut selalu dalam keteraturan. Dari pendapat tersebut
jelaslah bahwa manusia dalam menjalani kehidupan perlu memegang prinsip yang
kemudian dijadikan pedoman agar lebih terarah dalam menjalani hidup. Prinsip
hidup tersebut adalah buah dari pemikiran manusia tentang hidup yang mana secara
sadar dan tidak sadar diperoleh melalui proses berpikir secara filsafat baik
dalam pendidikan formal maupun non formal.
C. Aliran-aliran Dalam Filsafat
1. Idealisme
Idealisme
diambil dari kata ide yakni sesuatu yang hadir dalam jiwa. Idealisme dapat diartikan
sebagai suatu paham atau aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik
hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Menurut paham ini,
objek-objek fisik tidak dapat dipahami terlepas dari spirit.
Idealisme adalah salah satu aliran
filsafat pendidikan yang berpaham bahwa pengetahuan dan kebenaran tertinggi
adalah ide. Semua bentuk realita adalah manifestasi dalam ide. Karena
pandangannya yang idealis itulah idealisme sering disebut sebagai lawan dari
aliran realisme. Tetapi, aliran ini justru muncul atas feed back realisme yang
menganggap realitas sebagai kebenaran tertinggi. Rapar (1996:
45) menyatakan bahwa segala sesuatu yang tampak dan mewujud nyata dalam alam
indrawi hanya merupakan gambaran atau bayangan dari yang sesungguhnya, yang
berada di dunia ide.
Idealisme
menganggap, bahwa yang konkret hanyalah bayang-bayang, yang terdapat dalam akal
pikiran manusia. Kaum idealisme sering menyebutnya dengan ide atau gagasan.
Seorang realisme tidak menyetujui pandangan tersebut. Kaum realisme berpendapat
bahwa yang ada itu adalah yang nyata, riil, empiris, bisa dipegang, bisa
diamati dan lain-lain. Dengan kata lain sesuatu yang nyata adalah sesuatu yang
bisa diindrakan (http://hidayatkaryadi.blogspot.com/
akses 27 Januari 2015).
Idealisme
merupakan suatu aliran yang mengedepankan akal pikiran manusia. Sehingga
sesuatu itu bisa terwujud atas dasar pemikiran manusia. Dalam pendidikan,
idealisme merupakan suatu aliran yang berkontribusi besar demi kemajuan
pendidikan. Hal tersebut bisa dilihat pada metode dan kurikulum yang digunakan.
Idealisme mengembangkan pemikiran peserta didik sehingga menjadikan peserta
didik mampu menggunakan akal pikiran atau idenya dengan baik dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan.
Idealisme
sangatlah penting untuk membentuk
karakter seseorang, sehingga dengannya keharmonisan dalam masyarakat sosial
diharapkan dapat terwujud dengan baik. Secara individual, sikap idealisme
sering diidentikkan dengan kebenaran oleh karena perilaku-perilaku menyimpang
kerap kali menjadi lawan dari idealisme.
2. Realisme
Real berarti yang aktual atau yang ada,kata tersebut menunjuk kepada benda
‑ benda atau kejadian-kejadian yang sungguh-sungguh (http :// adipustakawan 01. blogspot. com/
akses 27 Januari 2015). artinya yang bukan sekadar khayalan atau apa yang ada
dalam pikiran. Real menunjukkan apa yang ada. Reality adalah keadaan atau sifat
benda yang real atau yang ada,yakni bertentangan dengan yang tampak. Dalam arti
umum, realisme berarti kepatuhan kepada fakta, kepada apa yang terjadi, jadi
bukan kepada yang diharapkan atau yang diinginkan. Akan tetapi dalam filsafat,
kata realisme dipakai dalam arti yang lebih teknis.
Dalam arti filsafat yang
sempit, realisme berarti anggapan bahwa obyek indera kita adalah real,
benda-benda ada, adanya itu terlepas dari kenyataan bahwa benda itu kita
ketahui, atau kita persepsikan atau ada hubungannya dengan pikiran kita. Bagi
kelompok realis, alam itu, dan satu‑satunya hal yang dapat
kita lakukan adalah: menjalin hubungan yang baik dengannya. Kelompok
realis berusaha untuk melakukan hal ini, bukan untuk menafsirkannya
menurut keinginan atau kepercayaan yang belum dicoba kebenarannya.
3. Pragmatisme
Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa Yunani)
yang berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme adalah suatu aliran yang
mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan
perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. (http://filsafatpendidikanpragmatisme.blogspot.com
/ akses 30 Januari 2015)
Aliran ini bersedia menerima segala sesutau,
asal saja hanya membawa akibat praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi,
kebenaran mistis semua bisa diterima sebagai kebenaran dan dasar tindakan
asalkan membawa akibat yang praktis yang bermanfaat. Dengan demikian, patokan
pragmatisme adalah “manfaat bagi hidup praktis”. Kata pragmatisme sering sekali
diucapkan orang. Orang-orang menyebut kata ini biasanya dalam pengertian
praktis. Jika orang berkata, Rencana ini kurang pragmatis, maka maksudnya ialah
rancangan itu kurang praktis. Pengertian seperti itu tidak begitu jauh dari
pengertian pragmatisme yang sebenarnya, tetapi belum menggambarkan keseluruhan
pengertian pragmatisme.
Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat
yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah, apakah sesuatu itu
memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata.
Oleh sebab itu kebenaran sifatnya menjadi relatif tidak mutlak. Mungkin sesuatu konsep atau peraturan sama sekali tidak memberikan kegunaan bagi masyarakat tertentu, tetapi terbukti berguna bagi masyarakat yang lain. Maka konsep itu dinyatakan benar oleh masyarakat yang kedua. Pragmatisme dalam perkembangannya mengalami perbedaan kesimpulan walaupun berangkat dari gagasan asal yang sama.
Oleh sebab itu kebenaran sifatnya menjadi relatif tidak mutlak. Mungkin sesuatu konsep atau peraturan sama sekali tidak memberikan kegunaan bagi masyarakat tertentu, tetapi terbukti berguna bagi masyarakat yang lain. Maka konsep itu dinyatakan benar oleh masyarakat yang kedua. Pragmatisme dalam perkembangannya mengalami perbedaan kesimpulan walaupun berangkat dari gagasan asal yang sama.
4. Materialisme
Materialisme, asal katanya dari bahasa
Inggris : Materialism, dan ajaran ini menekankan pada keunggulan
faktor-faktor”material” atas yang “spiritual” dalam metafisika, teori nilai,
fisiologi, epistemologi atau penjelasan historis.
Materialis,
Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat
dikatakan benar-benar ada adalah materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas
materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah
satu-satunya substansi. Sebagai teori materialisme termasuk paham ontologi
monistik. Materialisme berbeda dengan teori ontologis yang didasarkan pada
dualisme atau pluralisme. Dalam memberikan penjelasan tunggal tentang realitas,
materialisme berseberangan dengan idealisme. Materialisme adalah ajaran yang
menekankan keunggulan faktor-faktor material atas yang spiritual dalam
metafisika, teori nilai, fisiologi, epistimologi atau penjelasan historis. Ada
beberapa macam materialisme, yaitu materialisme biologis, materialisme parsial,
materialisme antropologis, materialisme dialektis, dan materialisme historis. (http://carlos-rosid.blogspot.com / akses 5
Februari 2015)
Materialisme adalah sistem pemikiran
yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak dan menolak
keberadaan apapun selain materi. Objek pembahasan materialisme sendiri
berbeda dengan pembahasan positivisme. Pengetahuan positif merupakan puncak
pengetahuan manusia yang disebutnya sebagai pengetahuan ilmiah. Sesuai dengan
pandangan tersebut kebenaran metafisik yang diperoleh dalam metafisika ditolak
karena kebenarannya sulit dibuktikan dalam kenyataan.Auguste Comte mencoba
mengembangkan Positivisme ke dalam agama atau sebagai pengganti agama. Hal ini
terbukti dengan didirikannya Positive Societies di berbagai
tempat yang memuja kemanusiaan sebagai ganti memuja Tuhan. Perkembangan
selanjutnya dari aliran ini melahirkan aliran yang bertumpu kepada isi dan
fakta-fakta yang bersifat materi, yang dikenal dengan Materialisme. Di dalam
ajaran materialisme metafisika tidak ditolak karena materialisme sendiri
berdasarkan metafisika. Metafisika sendiri di dalam kamus ilmiah popular
memiliki arti salah satu cabang filsafat yang membicarakan problem watak yang
sangat mendasar dari pada benda di belakang pengalaman yang langsung secara komprehensif.
D. Penutup
Begitu berartinya dunia filsafat bagi
kehidupan manusia dalam berbagai bidang. Tuntutan ilmu pengetahuan yang semakin
hari semakin maju tentu menjadi sebuah motivasi tersendiri bagi kita untuk
terus mempelajarinya sampai pada titik dimana manusia hanya berpikir bahwa
ternyata eksistensi alam semesta ini ada yang menguasainya. Banyaknya aliran
dalam bidang filsafat tentu telah menjadi dasar untuk bagaimana kita
mengembangkan serta mengaplikasikannya dalam kehidupan shari-hari baik dalam
bidang pendidikan, ekonomi, religious, politik, dan sebagainya. Aliran-aliran
filsafat tersebut telah menjadi pijakan utama manusia dalam mengkaji sebuah
masalah yang muncul dalam kehidupan ini. Dari situ jugalah kita dapat
menentukan orientasi hidup kita sehingga tujuan hidup dapat tercapai dengan
baik.
Terkhusus dalam dunia pendidikan,
filsafat merupakan sarana untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri. Dengan
filsafat, pendidikan diharapkan dapat dikaji dan dikembangkan lebih dalam lagi
dengan memperhatikan berbagai macam sudut pandang keilmuan. Sehingga
pengetahuan-pengetahuan baru dapat kita temukan dengan cara yang ilmiah dan dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Daftar Pustaka
Adi,
Pustakawan. 2015. “Filsafat Realisme”
Carlos,
Rosid. 2015. “Materialisme”. http://carlos-rosid.blogspot.com /2012/04/materialisme.htmlcarlos.rosid/ (akses 5 Februari 2015)
Hasbullah.
2013. “Dasar-dasar Ilmu Pendidikan”.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Hidayat, Karyadi. 2015. “Filsafat Pendidikan : Idealisme. http://hidayatkaryadi.blogspot.com/2013/12/idealisme.html (akses 27 Januari 2015)
Lutfiana. 2015. “Filsafat Pendidikan Pragmatisme”
http://filsafatpendidikanpragmatisme.blogspot.com (akses 30 Januari
2015)
Rapar,
Jan Hendrik. 1996. “Pengantar Filsafat”.
Yagyakarta: Kanisius
Suhartono,
Suparlan. 2006. “Filsafat Pendidikan”.
Yogyakarta: Ar-Ruzz
Wafiroh,
Nihayatu dan Syamsiatun, Siti. 2013. “Filsafat,
Etika, dan Kearifan Lokal untuk Konstruksi Moral Kebangsaan”. Geneva:
Globethics.net Focus 7
Undang-Undang
No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Langganan:
Komentar (Atom)

